Rabu, 02 Januari 2013

Dampak Pemanfaatan Lahan Gambut







Dampak Pemanfaatan Lahan Gambut untuk Pertanian terhadap Agrofisik Lahan dan Sosial Ekonomi Petani

Muhammad Noor, Dedi Nursyaamsi, Noorginayuwati
Anna Hairani, dan Nurwahid


PENGANTAR
 

Kegiatan penelitian ini didanai oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian melalui Balai Pengelola Alih Teknologi Pertanian (BPATP) sebagai penghargaan bagi Pemenang Kompetisi sebagai Inovator Luar Biasa Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian Tahun 2011. Kegiatan lapangan dari penelitian ini dilaksanakan secara simultan di 2 (dua) lokasi, yaitu (1) Riau dari tanggal 12 sampai dengan 18 Juni 2012 dan (2) Kalimantan Barat dari tanggal 5 sampai dengan 11 Juli 2012 .
Kami mengucapkan terima kasih kepada Tim Pokja Pengelola Alih Teknologi Pertanian, khususnya Prof. Dr. H. Karim Makarim, M.Sc. yang banyak memberikan masukan dalam penyusunan proposal dan laporan penelitian ini. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada  Ir. Gufran MS dari BPTP Kalimantan Barat dan Ir. Ony dari BPTP Riau, PPL Kuala Dua (Pontianak), PPL Rasau Jaya (Kubu Raya), PPL Kempas (Indragiri Hilir); Bunga Raya (Siak) yang telah membantu dalam pelaksanaan kegiatan di atas.
Demikian, atas tersusunnya laporan ini kami juga mngucapkan apresiasi kepada anggota tim peneliti dan penyuluh yang tergabung dalam penelitian yang telah menyediakan waktu dan pikirannya sehingga tersusunnya laporan ini. Kami tim penelitin mohon kritik dan saran untuk kesempurnaan laporan ini. Semoga laporan ini dapat bermanfaat untuk pengembangan pertanian, khususnya di lahan gambut yang masih sangat terbatas informasinya.     

           Banjarbaru, November  2012

Dr. Ir. Muhammad Noor, MS.


RINGKASAN EKSEKUTIF


Lahan gambut di Indonesia mencapai luas 17-20 juta ha, namun hanya sebagian yang sudah dimanfaatkan terutama untuk pertanian. Pemanfaatan gambut untuk pertanian tercatat sejak tahun 1930an. Pemerintah sejak tahun 1969 telah merencanakan pembukaan lahan rawa pasang surut, termasuk lahan gambut untuk mendukung program transmigrasi. Pada tahun 1995/1996 pemerintah kembali merencanakan membuka lahan rawa dan gambut dalam Proyek Pengembangan Lahan Gambut (PLG) Sejuta Hektar di Kalimantan Tengah. Beragam komoditas pertanian dikembangkan di lahan gambut dari tanaman semusim (padi, palawija, sayur mayur) sampai tanaman tahunan (kelapa, jeruk, kelapa, kelapa sawit, kopi, dsb) dengan berbagai inovasi teknologi dan asupan input (eksisting). Namun apabila terjadi kesalahan dalam pengelolaan lahannya maka terjadilah kerusakan pranata hidrologi dan penurunan produktivitas yang kemudian lahan ditinggalkan menjadi lahan tidur. Penelitian ini bertujuan antara lain: (1) menginventarisasi ragam pemanfaatan lahan dari jenis tanaman yang dikelola, inovasi teknologi budidaya, dan taraf pengelolaan (eksisting) dan (2) menyusun nilai komparatif pemanfaatan lahan (dengan pengelolaan lahan dan budidaya tanaman yang diterapkan) terhadap aspek-aspek agrofisik lahan dan sosial ekonomi dari masing-masing komoditas. Keluaran yang diharapkan dari penelitian yaitu : (1) Informasi tentang sistem pengelolaan lahan gambut untuk berbagai budidaya tanaman, meliputi sistem pengelolaan air, pengelolaan lahan, penyiapan tanah, asupan pupuk (input),  dan  kearifan lokal (indigenous knowledge) dalam pemanfaatan lahan. (2) Nilai komparatif dan dampak masing-masing pengelolaan atau pemanfaatan lahan gambut terhadap agrofisik lahan dan sosial ekonomi petani, dan (3) Arahan sistem pengelolaan alternatif yang menghasilkan produktivitas tanaman tinggi dengan dampak lingkungan yang minimal.  Penelitian di laksanakan selama sepuluh bulan tahun 2012 dengan lokasi di provinsi Riau dan Kalimantan Barat.  Penelitian ini merupakan penelitian perkembangan (developmental research) untuk penyelidikan pola perkembangan atau peubahan secara sistematik  dengan kegiatan utama yaitu (1) pengukuran dan pengamatan sifat-sifat agrofisik lahan dan lingkungan, dan (2) pengambilan dan pengamatan terhadap data-data sosial ekonomi petani dan fakkor-faktor eksternal berupa kelembagaan petani dan usaha taninya.  Pengamatan terhadap aspek-aspek agrofisik lahan dan lingkungan dilakukan dengan penyelidikan lapang secara cepat (quick assesment) dengan melakukan karakterisasi. Pengambilan data social ekonomi dengan survey dan wawancara. Pendekatan penelitian menggunakan pendekatan Agro-Ekosistem dan Pemahaman Pedesaan dalam Waktu Singkat (Rapid Rural Appraisal = RRA).  Agro-ekosistem adalah ekosistem yang telah mengalami perubahan akibat pemanfaatan secara langsung maupun tidak langsung baik oleh akibat alam (banjir, kekeringan, kebakaran lahan dan lainnya) maupun akibat olah manusia (pertanian, perkebunan, peternakan dan sebagainya).  RRA adalah suatu metode atau kegiatan yang dirancang secara sistematis untuk mendapat informasi, keterangan, kesimpulan atau suatu penilaian dalam jangka waktu yang terbatas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Pemanfaatan lahan gambut untuk tanaman pangan (padi, palawija, sayuran, horti, nenas, lidah buaya di Kalbar masih bersifat individual dan semata-mata untuk pendapatan keluarga dan kurang kompetitif, (2) Pemanfaatan lahan gambut untuk sawit di Riau lebih berorientasi bisnis bermitra dengan perusahaan umumnya, (3) Pemanfaatan gambut tebal untuk pengembangan kelapa sawit yang berkembang dalam 5-10 tahun terakhir karena sumberdaya lahan terbatas, (4) Produktivtas tanaman rata-rata rendah karena input rendah dan modal terrbatas dapat ditingkatkan, (5)  Pola tanam polikultur bukan monokultur, semakin banyak jenis tanaman lebih bagus (resiko harga jatuh minimal) – kaidah keseimbangan lingkungan, (6) Komoditas nenas di Kalbar mempunyai nilai ekonomi paling layak secara ekonomis karena  menguntungkan dan paling efisien  (R/C  tertinggi ), (7)  Investasi ,kelapa sawit yang diusahakan di kabupaten Siak layak secara ekonomis (B/C > 1, nilai NPV positip dan nilai IRR lebih besar dari tingkat bunga yang berlaku (DF 10% maupun DF 12%); pilihan petani di desa Bayas Jaya dan Kempas Jaya di kabupaten Inhil yang mengganti tanaman sawit dengan karet merupakan pilihan yang tepat, dan (8) Kelembagaan penyuluh di Kalbar berimbang antara efektif dan yang tidak efektif, koperasi atau KUD tidak efektif, klompok tani dan gotong royong cukup efektif, di kelmebgaan penyuluh, KUD/Koperasi dan P3A tidak efektif, gotong royong efektif dan kelompok tani seimbang antara efektif dan tidak efektif.






















EXECUTIVE SUMMARY

Top of Form













Peatlands in Indonesia, reaching 17-20 million ha, but only part that has been used mainly for agriculture. Utilization of peat for agriculture recorded since the 1930s. Government since 1969 has planned the opening of tidal swamplands, including peatlands in it to support the resettlement program. In the year 1995/1996 the government again plans to open land and peat bogs in Peatland Development Project (PLG) Million Acres in Central Kalimantan. Developed a variety of agricultural commodities in peatlands of seasonal crops (rice, vegetables) to the annual crops (coconut, orange, coconut, oil palm, coffee, etc.) with a range of innovative technologies and inputs intake (existing). But if something goes wrong in the management of the land there hydrologic damage and reduced productivity of institutions which later abandoned land becomes bare land. The study aims are: (1) an inventory of various of land use, including plant species that are managed, aquaculture technology innovation, and management level (existing) and (2) prepare a comparative value of land use (with land management and crop cultivation are applied) to the aspect -social aspects of land use and economic agro-physics of each commodity. Expected outputs of the research are: (1) information about peatland management for cultivation of various cropts, including water management, land management, land preparing, fertilization, and local wisdom (indigenous knowledge) of land use, (2) the comparative dampac value of land use for the commodity (given) on the agrophysical land and social aconomical of peasent, and (3) Referral of management of peat alternatives that produce high crop productivity with minimal environmental impact.  Research carried on for ten months of 2012 with locations in Riau Jambi and West Kalimantan. This research is the development (developmental research) to study of dynamically pattern of development or systematically with the main activities, namely (1) measurements and observations agrofisik properties of land and environment, and (2) retrieval and examination of socio-economic data of farmers and fakkor external factors of institutional farmers and their farm. Observations on aspects of land and environmental agro-physics conducted by field investigation quickly (quick assessment) by characterisation. Socioeconomic data capture with surveys and interviews. Approach to research using Agro-Ecosystem approach and understanding of the rural by short time (Rapid Rural Appraisal = RRA). Agro-ecosystems are ecosystems that have undergone changes due to the use, directly or indirectly caused both by natural (floods, droughts, fires, etc.) or due to human if (agriculture, plantation, animal husbandry and so on). RRA is a method or a systematic activities designed to obtain information, details, conclusion or a judgment in a limited period of time. The results showed that (1) Utilization of peat land for food crops (rice, pulses, vegetables, Horti, pineapple, aloe vera in West Kalimantan is still individual and solely for family income and less competitive, (2) use of peatlands for palm Riau more business-oriented partner with companies generally, (3) Utilization of thick peat for growing oil palm development in the last 5-10 years because of limited land resources, (4) Produktivtas low average crop due to low input and capital can be increased terrbatas , (5) not a monoculture polyculture cropping pattern, the more types of plants nicer (minimal risk of falling prices) - the rules of the environmental, (6) pineapple Commodities in West Kalimantan has economic value because most feasible economically profitable and most efficient (R / C highest), (7) Investments, palm oil grown in Siak district economically feasible (B / C> 1, the positive NPV and IRR greater than the prevailing interest rate (DF DF 10% and 12%); choice of farmers Bayas village and Kempas Jaya Jaya district Inhil that replace oil with a rubber plant is the right choice, and (8) in West Kalimantan extension Institutional balance between effective and ineffective, ineffective cooperatives or cooperatives, farmer and mutual assistance klompok quite effective , in kelmebgaan extension, cooperatives / cooperative and P3A ineffective, effective mutual cooperation and farmers balance between effective and ineffective.

I.              PENDAHULUAN
1.1.                        Latar Belakang
Lahan gambut di Indonesia mencapai luas 17-20 juta ha yang tersebar di tiga pulau besar Kalimantan, Sumatera dan Papua, namun sebagian besar yang sudah dimanfaatkan terutama untuk pertanian berada di Kalimantan dan Sumatera. Pemanfaatan gambut untuk pertanian secara luas tercatat berlangsung sejak tahun 1980an. Pemerintah sejak tahun 1969 telah merencanakan pembukaan lahan rawa pasang surut, termasuk diantaranya lahan gambut dalam mendukung program transmigrasi yang memindahkan sekitar 2 juta jiwa penduduk pulau Jawa dan Bali ke lahan-lahan rawa di Kalimantan dan Sumatera seluas 5,25 juta ha. Pada tahun 1995/1996 pemerintah kembali merencanakan membuka lahan rawa, termasuk diantaranya lahan gambut seluas sejuta  hektar dalam Proyek Pengembangan Lahan Gambut (PLG) di Kalimantan Tengah. Pembukaan dan pemanfaatan lahan gambut di atas sangat terkait dengan kondisi pangan nasional yang masih kuat bergantung pada impor.   
Keseluruhan lahan rawa yang berhasil dibuka baru sekitar 5 juta ha lahan rawa, termasuk lahan gambut. Lahan rawa yang dibuka mencapai 2 juta ha oleh pemerintah dan 3 juta oleh masyarakat secara swadaya. Namun dari luas lahan gambut yang dibuka dapat dimanfaatkan baru 0,5 juta ha untuk tanaman semusim (pangan) dan 1,5 juta ha untuk tanaman perkebunan (terutama karet, kelapa, dan kelapa sawit). Padahal luas lahan rawa, termasuk gambut yang cocok untuk pengembangan pertanian, termasuk perkebunan diperkirakan antara 9-10 juta hektar (Radjagukguk, 2010; Noor, 2010). Dalam sepuluh tahun ke depan akibat pertambahan penduduk, degradasi lahan, konversi lahan dan lain sebagainya maka pemanfaatan lahan gambut untuk pengembangan pertanian, termasuk perkebunan akan semakin luas dan intensif. 
Pengembangan lahan gambut untuk perkebunan disinyalir meningkatkan kebakaran hutan dan perambahan/pembalakan  hutan yang menyebabkan meningkatnya emisi CO2 ke atmosfir.  Lahan gambut merupakan rosot karbon, tetapi juga sekaligus dapat menjadi sumber emisi gas rumah kaca (GRK) antara lain CO2, CH4, dan N2O karena gambut tersusun dari jaringan tanaman yang merupakan senyawa karbon. Komitmen pemerintah  Indonesia secara sukarela menargetkan penurunan emisi GRK sebesar 26%, diantaranya 9,5-13,0% dari pembukaan lahan gambut patut dipertimbangkan kembali mengingat kebutuhan pangan dan energi ke depan yang semakin besar dan deras. Juga mengingat potensi lahan gambut sangat prospektif untuk pengembangan pertanian maka semestinya terus untuk digali dan dikembangkan. Hal ini seiring dengan kebijakan pemerintah untuk mewujudkan 4 (empat) Sukses Kementerian Pertanian (Renstra Kemtan 2010-2014), yaitu (1) Swasembada pangan (padi, jagung, kedelai); (2) Diversifikasi pangan, (3) Meningkatkan nilai tambah, dan (4) Meningkatkan kesejahteraan petani. Operasionalisasi pencapaian 4 Sukses Kemtan di atas melalui Direktorat Jenderal Tanaman Pangan melakukan 7 (tujuh) Gema Revitalisasi, yaitu (1) lahan, (2) perbenihan dan pembibitan, (3) infrastruktur dan sarana, (4) sumber daya manusia, (5) pembiayaan petani, (6) kelembagaan petani, dan (7) teknologi dan industri hilir.   Penelitian ini juga terkait dengan harapan Badan Litbang Pertanian (Renstra Badan Litbang 2010-2014) untuk ketersediaan (1) informasi potensi sumberdaya lahan untuk mendukung pengembangan pertanian (lahan terlantar, peningkatan IP,  perlindungan lahan pangan berkelanjutan)  seluas 15 juta ha dan (2) paket dan komponen teknologi pengelolaan sumber daya lahan dan sumber daya air, termasuk khususnya pada  lahan rawa pasang surut dan gambut.

1.2.                        Tujuan
Penelitian ini bertujuan: (1) menginventarisasi ragam sistem pengelolaan lahan  gambut untuk budidaya pertanian, termasuk pengelolaan air,  pengelolaan lahan, penyiapan lahan, asupan pupuk (input) dan kearifan lokal (indogenous knowledge) setempat dan (2) menyusun nilai komparatif dan pengaruh pemanfaatan berdasar komoditas dan pengelolaan lahan terhadap aspek-aspek agrofisik lahan dan sosial ekonomi dari masing-masing komoditas.  









II.             TINJAUAN PUSTAKA

Lahan gambut sejak lama dimanfaatkan masyarakat setempat dengan berbagai komoditi dan taraf pengelolaan. Pemerintah sejak tahun 1930 telah membuka dan memanfaatkan lahan gambut dengan pola jaringan tata air seperti sisir, garpu, handil dan lainnya. Beragam komoditas dikembangkan di lahan gambut dari tanaman semusim (padi, palawija, sayur mayur) sampai tanaman tahunan (kelapa, jeruk, kelapa, kelapa sawit, kopi, dsb) dengan inovasi teknologi dan asupan input beragam. Lahan gambut yang dibuka pemerintah sejak 1970-1990 tersebar di Sumatera Selatan, Rian, Jambi, Sumatera Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan (Tabel 1).
Tabel 1. Lokasi pengembangan transmigrasi di lahan gambut di 7 provinsi
Provinsi
Nama UPT/Lokasi
Pola/Komoditas
Sumatera Selatan
Karang Agung, Delta Upang, Air Saleh, Air Sugihan, Air Telang, Pulau Rimau
Tanaman Pangan
J a m b i
Sungai Bahar, Rantau Rasau, Lagan Hulu
Perkebunan dan Tanaman Pangan
R i a u
Pulau Burung, Gunung Kaleman, Delta Reteh, Sungai Siak
Perkebunan
Sumatera  Barat
Lunang
Tanaman Pangan
Kalimantan Selatan
Tamban, Sakalagun
Tanaman Pangan
Kalimantan Barat
Rasau Jaya, Padang Tikar, Teluk Batang, Sei Bulan
Tanaman Pangan
Kalimantan Tengah
Pangkoh/Pandih Batu, Kanamit, Kantan, Talio, Maliku, Basarang, Sebangau, Seruyan, Lamunti
Tanaman Pangan dan  Perkebunan

 
 
















Pemanfaatan lahan gambut ke depan dituntut selain menguntungkan secara ekonomi untuk meningkatkan pendapatan masyarakat dan tidak merusak lahan gambut itu sendiri. Lahan gambut sendiri dikenal rapuh (fragile) sehingga memerlukan teknologi dan input yang tepat dengan dampak terhadap lahan gambut negatif yang minimal.  Pengembangan lahan gambut dihadapkan pada kendala biofisik lahan dan lingkungan serta sosial ekonomi. Kesalahan dalam mengelola dapat mengakibatkan degradasi lahan, kerusakan pranata hidrologi, penurunan produktivitas, hilangnya mata pencaharian petani dan migrasi penduduk ke luar desa.
Oleh karena besarnya potensi karbon dari lahan gambut maka dengan pemanfaatan lahan gambut yang semakin luas  dicemaskan akan memacu perubahan iklim akan semakin deras.  Menurut proyeksi Kementerian Lingkungan Hidup (2010) emisi GRK sampai tahun 2020 diperkirakan mencapai 2,95 Gt CO2 meningkat sebesar 70 % atau rata-rata meningkat 7% per tahun. Menurut Melling et al. (2005; 2008) emisi gas karbon (CO2) tahunan dari ekosistem kelapa sawit di lahan gambut selama 5 tahun menunjukkan lebih rendah dibandingkan dengan ekosistem hutan gambut.  Laju emisi karbon (CO2) pada ekosistem hutan gambut setara dengan 2,1 ton C.ha-1.tahun-1, sedang laju emisi pada lahan yang ditanami kelapa sawit  1,5 ton C.ha-1.tahun-1. Sementara   emisi CH4 dari ekosistem hutan gambut dalam hanya mencapai 0,18 ton C ha-1 tahun-1, sedang pada lahan yang ditanami kelapa sawit  CH4 disimpan dalam bentuk rosot sebesar -0,15 ton C ha-1 tahun-1. Angka-angka yang ditunjukkan dari penelitian, khususnya pada emisi karbon jauh lebih rendah dari yang dikemukakan oleh sumber lainnya di atas, termasuk dari Intergovermental Panel on Climate Change (IPCC, 2000).
Menurut Lambert (1995) dan Suryanto (1994) sifat-sifat fisk-kimia lahan gambut sangat dipengaruhi oleh jenis komoditas yang dibudidayakan. Menurut Radjaguguk (2000) akibat reklamasi setelah 4-10 tahun sifat-sifat fisik dan kimia tanah gambut yang berubah antara lain pemadatan (subsidance), kerapatan lindak (bulk density) meningkat, namun di sisi lain sifat kimia seperti kemasaman tanah dan air menurun, kelarutan asam-asam organik meningkat, ion-ion toksik meningkat. Noorginayuwati dan Noor (1999) menunjukkan dengan menurunnya kondisi kualitas lahan setelah reklamasi dan dimanfaatkan untuk budidaya pertanian tanaman pangan, hasil panen atau produktivitas lahan menurun yang mengakibatkan petani meninggalkan lahannya. 
Berkenaan dengan kesepakatan pemerintah dalam penurunan emis GRK sebsar 9,5-13 % dari lahan gambut atau 26% oleh pemerintah sampai tahun 2020 dan terbitnya INPRES No 10/2011 tentang moratorium  pemanfaatan lahan gambut untuk mitigasi dan adaptasi perubahan iklim di kalangan ilmuawan masih menjadi perdebatan maka upaya inovasi pengelolaan lahan rawa untuk pengembangan lahan gambut dengan tingkat produktivitas yang tinggi dan emisi rendah sangat penting.  Penggalian informasi dan pengetahuan petani dalam pengembangan lahan gambut ini diharapkan dapat dimanfaatkan dalam perumusan arah kebijakan pengembangan lahan gambut.  Selain itu dari sintesis hasil-hasil penelitian lapangan dan pengetahuan lokal petani di lahan gambut juga diharapkan dapat diketahui dampak pengelolaan lahan selama ini terhadap aspek agro fisik lahan dan sosial ekonomi petani serta tingkat keberlanjutan usahataninya ke depan.




















III.       METODOLOGI  PENELITIAN
3.1.        Kerangka Pendekatan  Penelitian
Pendekatan penelitian menggunakan pendekatan Agro-Ekosistem dan Pemahaman Pedesaan dalam Waktu Singkat (Rapid Rural Appraisal = RRA).  Agro-ekosistem adalah ekosistem yang telah mengalami perubahan akibat pemanfaatan secara langsung maupun tidak langsung baik oleh akibat alam (banjir, kekeringan, kebakaran lahan dan lainnya) maupun akibat olah manusia (pertanian, perkebunan, peternakan dan sebagainya).  RRA adalah suatu metode atau kegiatan yang dirancang secara sistematis untuk mendapat informasi, keterangan, kesimpulan atau suatu penilaian dalam jangka waktu yang terbatas (Collier et al, 1986; Puslitbangtan, 1991; Noorginayuwati dan Noor, 1999).  Kerangka alur pikir permasalahan disajikan pada Gambar 1. 

3.2.  Metode dan Tahapan Pelaksanaan
Penelitian dilaksanakan pada tahun 2012 dengan lokasi (1) Propinsi Riau dan (2) Kalimantan Barat. Pada masing-masing propinsi ditentukan 2 (dua) kabupaten dengan sebaran lahan gambut terluas. Setiap kabupaten dipilih 2 (dua) kecamatan dan masing-masing setiap kecamatan diambil 2 (dua) desa. Lokasi penelitian merupakan lahan gambut yang telah dibudidayakan untuk pertanian. Kegiatan dalam 2 (dua) tahap yaitu (1) studi pustaka, dan  (2) pra survey, survey dan wawancara perkembangan.

Tahap 1: Studi Pustaka
Studi pustaka ini menyangkut masing-masing lokasi penelitian yang bertujuan untuk mendapatkan gambaran (deskriptif) tentang lokasi secara umum yang meliputi sebaran lahan gambut di provinsi/kabupaten/kecamatan, kondisi umum wilayah (iklim, topografi, tanah, air), pemanfaatan secara umum dan tata guna lahan (pertanian tanaman pangan, perkebunan, periaknan, peternakan, kehutanan), termasuk peta-peta wilayah.  

Tahap 2.  Pra Survei, Survei dan Wawancara
Kegiatan pra survey yang dilanjutkan dengan survey atau wawancara ini bertujuan untuk mempelajari tahap awal keadaan umum wilayah penelitian yaitu meliputi sumber daya alam/lahan, sumber daya manusia, sumber daya ekonomi  penduduk/petani (mata pencaharian), dan observasi keliling atau orientasi lapang pada lokasi wilayah penelitian. Setelah mendapatkan gambaran umum maka dikumpulkanlah data-data rinci sesuai dengan masalah yaitu dampak pemanfaatan lahan gambut untuk pertanian terhadap agrofisik lahan dan sosial ekonomi.  Informasi diperoleh dengan wawancara tanpa kuesiner, tetapi topik/sub topik sebagai pedoman wawancara semi strruktur telah disusun daftar pertanyaan dengan kata bantu dalam wawnacara yaitu apa, siapa, dimana, kapan, mengapa dan bagaimana (5W+ 1H).
Kegiatan survey dan wawancara ini merupakan penelitian perkembangan (developmental research) untuk menyelidiki pola perkembangan atau perubahan secara sistematik (Suryabrata, 1983; Collier, 1986; Hadi, 2001). Kegiatan ini  terdiri atas  (1) pengukuran dan pengamatan sifat-sifat agrofisik lahan dan lingkungan di lapangan dan labratorium, dan (2) pengambilan dan pengamatan terhadap data-data sosial ekonomi petani dan fakkor-faktor eksternal berupa kelembagaan petani dan usaha taninya, termasuk kebijaksanaan dan norma-norma yang ada di masyarakat setempat. 

3.3.        Pengolahan Data dan Analisis  
Data yang terkumpul diolah dengan menyaring dan menyeleksi atas dasar realibilitas dan validitasnya, data yang kurang lengkap digugurkan atau dilengkapi dengan substitusi.  Analisis data dilakukan secara deskriptif dan analisis sistem terhadap pola perubahan menurut ruang, waktu, aliran dan keputusan baik terhadap agrofisik lahan dan lingkungan dan sosial ekonomi petani (Collier et al., 1986; Lambert, 1995; Hadi, 2001).

IV.    HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1.                Agrofisik Lahan dan LIngkungan serta Perubahannya

4.1.1.                   Karakterisitik Sumber Daya Lahan Gambut

Lahan gambut di propinsi Kalimantan Barat tersebar diseluruh atau 8 daerah kabupaten/kota, terluas diantaranya di 2 (dua) kabupaten, yaitu Kabupaten  Pontianak dan Kabupaten Kubu Raya. Pada dua kabupaten ini pemanfaatan lahan gambut untuk pertanian, khususnya tanaman pangan cukup luas sehingga terpilih  untuk menjadi lokasi atau tempat penelitian ini. Sebaran lahan gambut di Propinsi Kalimantan Barat disajikan dengan peta pada Lampiran 1. Hasil karakterisasi di 9 (empat)  desa/lokasi terpilih di Kabupaten Pontianak dan Kubu Raya menunjukkan ketebalan gambut antara 1 - > 3,5 meter, kemasaman tanah sangat masam (pH 4-5), dan muka air tanah dangkal sampai sedang (15 – 70 cm)  yang sebagian besar dimanfaatkan untuk pengembangan tanaman pangan (Tabel 2).  Hasil analisis tanah menunjukkan bahwa sifat kimia tanah sangat ditentukan oleh penggunaan atau pilihan komoditas yang dibudidayakan disajikan pada Tabel Lampiran 1.
Lahan gambut di propinsi Riau tersebar diseluruh atau 11 daerah kabupaten/kota, terluas diantaranya di 2 (dua) kabupaten, yaitu Kabupaten Indragiri Hilir dan Kabupaten Siak. Pada dua kabupaten ini pemanfaatan lahan gambut untuk perkebunan, khususnya kelapa sawit cukup luas sehingga terpilih untuk menjadi lokasi atau tempat penelitian ini. Sebaran lahan gambut di Propinsi Riau disajikan pada peta Lampiran. Sebaran lahan gambut di Propinsi Kalimantan Barat disajikan pada peta Lampiran. Hasil karakterisasi di 9 (empat)  desa/lokasi terpilih di Kabupaten Indragiri Hilir  dan Siak menunjukkan ketebalan gambut antara  > 1 m sampai dengan 5,0 meter, kemasaman tanah sangat masam (pH 4,0-4,5), dan muka air tanah dangkal sampai sedang (15 – > 100 cm)  yang sebagian besar dimanfaatkan untuk pengembangan kelapa sawit yang berumur 6-8 tahun (Tabel 3).
Hasil analisis tanah menunjukkan bahwa sifat kimia tanah sangat ditentukan oleh penggunaan atau pilihan komoditas yang dibudidayakan disajikan pada Tabel Lampiran 2.



Tabel 2.  Karakteristik agrofisik lahan gambut dan pemanfaatannya, Kab. Pontianak dan Kubu Raya, Kalimantan Barat, 2012

No
Lokasi Desa
Kecamatan
Kabupaten
Pemanfaatan
Karakteritik Biofisik Utama
Ketebalan Gambut (cm)
pH tanah
Muka Air Tanah (cm)
1
 Mulyorejo
Kuala Dua, Sei  Raya
Pontianak
Lidah buaya
> 3,5
4,0
-67
2
Rejosari
Kuala Dua, Sei Raya
Semak
> 3,5
4,0
-73
3
Rejosari
Kuala Dua, Sei Raya
Sayur-syuran
3.1
4,7
-26
4
 Mulyorejo
Kuala  Dua, Sei Raya
Jagung
> 3,5
5,0
-70
5
Peniti  Besar
Segedong
Nanas
1.1
4,7
-35
6
 Rasau Jaya II, Banjarsari
Rasau Jaya
Kubu Raya
Sayuran-sayuran
>3,5
4,4
-70
7
Rasau Jaya II, Patok 29
Rasau Jaya
Padi
0,5
4,4
-35
8
Rasau Jaya II, Patok 27
Rasau Jaya
Jagung
0,6
4,4
-16
9
Rasau Jaya II, Patok 23
Rasau Jaya
Sayur-sayuran
2,6
4,4
-37
 






Tabel 3.  Karakteritik agrofisik lahan gambut dan pemanfaatannya, Kab. Indragiri Hilir dan Siak, Riau, 2012

No
Lokasi Desa
Kecamatan
Kabupaten
Pemanfaatan
Karakteritik Biofisik Utama
Ketebalan Gambut (cm)
pH tanah
Muka Air Tanah (cm)
1
PTPN V, Blok 0 Desa Bayas Jaya
Kempas
Indragiri Hilir
Kelapa sawit (2006)
0,60
4,0
-15
2
PTPN V, Blok 5  Desa
Bayas Jaya
Kempas
Indragiri Hilir
Kelapa sawit (2006)
P
4,4
-46
3
PTPN V, Blok 9, Desa Bayas Jaya
Kempas
Indragiri Hilir
Kelapa sawit (2006)
3,43
4,0
-44
4
PTPN V, Blok 10, Desa Bayas Jaya
Kempas
Indragiri Hilir
Kelapa sawit (2006)
2,00
4,0
-30
5
PTPN V, Blok 20, Desa Bayas Jaya
Kempas
Indragiri Hilir
Kelapa sawit (2006)
> 3,00
4,0
-40
6
Jati baru
Bunga Raya
Siak
Kelapa sawit (2006)
2,00
4,0
-47
7
Banjar Semenei/Sri Marcing
Bunga Raya
Siak
Kelapa sawit (2004)
1,60
4,0
-35
8
Banjar Semenei/Sri Marcing
Bunga Raya
Siak
Kelapa sawit (2004)
2,90
4,0
-42
9
Dayan
Bunga Raya
Siak
Kelapa sawit (2004)
5,00
4,0
- > 100










4.2.      Sosial Ekonomi Petani dan Perubahannya

4.2.1.                    Ketersediaan Sumberdaya Petani

Faktor sosial ekonomi petani dicirikan antara lain oleh ketersediaan sumberdaya yang melekat pada karakteritik individu petani, dan akan mempengaruhi kualitas usahatani (Tabel 4 dan 5).

Tabel 4. Karakteristik Individu Petani di Lahan Gambut Kalimantan Barat, 2012.


No
Uraian
Kabupaten
Indragiri
Hilir ¹
Siak²
Kisaran
1
Pendidikan (th)
7,1
6,75
2 – 12
2
Umur (th)
42
46,50
35 – 64
3
Jumlah tenaga kerja produktif (orang)
3,6
3,0
2 – 6
4
Pengalaman bertani (th)
19,5
15,63
10 – 33
5
Memiliki pekerjaan sampingan (%)
75
60
-
6
Luas pemilikan lahan (ha)
5,75
3,13
1,0 – 21,25
7
Luas lahan garapan (ha)
5,51
2,88
1,0 – 21,25
8
Luas pertanaman kelapa sawit (ha)
4,31
2,62
1 – 15
9
Komoditas yang ditanam
Sayuran,padi,karet,kelapa sawit
Padi, Kelapa sawit
-
Keterangan ¹.² rata-rata dari desa Bayas Jaya dan Kempas Jaya (Kab Indragiri Hilir )
      desa Jati Baru dan Desa Seminei (Kab Siak)

Tabel 5. Karakteristik Individu Petani di Lahan Gambut Kalimantan Barat, 2012.

No
Uraian
Kabupaten
Pontianak¹
Kubu Raya²
Kisaran
1
Pendidikan
5
6,9
0 – 15
2
Umur
44
48,65
35 – 59
3
Jumlah tenaga kerja produktif
3,25
3,95
2 – 6
4
Pengalaman bertani
20,75
28,3
15 – 38
5
Memiliki pekerjaan sampingan
75
75
-
6
Luas pemilikan lahan
3,69
3,13
1,0 –9,25
7
Lusa garapan
2,69
2,93
1,0 – 925
8
Luas pertanaman Hortikultura
1,51
0,75
0,1 – 3,0
9
Komoditas yang ditanam
Hortikultura jagung
Hortikultura Padi , Palawija
-
Keterangan : ¹.² rata-rata dari desa Galang dan Peniti Besar (Kab Pontianak) dan
                           desa Rasau Jaya  dan Kuala Dua (Kab Kubu Raya )

Pendidikan, baik formal maupun non formal adalah sarana untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan. Rata-rata pendidikan petani contoh kecuali di Kabupaten Pontianak relative tinggi yakni diatas SD 6 tahun. Namun demikian apabila tingkat pendidikan ini dapat ditingkatkan dengan pendidikan non formal tentunya akan lebih baik karena semakin tinggi tingkat pendidikan petani ,semakin tinggi pula kemampuannya menerima, menyaring dan menerapkan inovasi yang dikembangkan kepadanya. Mereka cendrung berpartisipasi dalam pembangunan dibandingkan petani  yang berpendidikan rendah .
            Rata-rata umur kepala keluarga petani contoh masih muda dan dalam usia produktif. Menurut Rogers (1983), makin muda usia petani biasanya mempunyai semangat ingin tahu yang makin besar terhadap hal-hal yang baru, sehingga ada kesan mereka lebih cepat dan responsive dalam pembaharuan. Persepsi mereka terhadap inovasi lebih tepat, lengkap dan obyektif dibandingkan dengan petani yang lebih tua.
            Persepsi seseorang dipengaruhi oleh pandangannya pada suatu keadaan atau fakta. Ketersediaan tenaga kerja atau tenaga kerja produktif merupakan fakta yang dapat mempengaruhi petani terhadap inovasi yang disampaikan padanya. Pada konsep Leknas bahwa jam kerja perminggu pria sebesar 35 jam kerja perminggu dan wanita/anak sebesar 20 jam perminggu, maka dengan konsep ini ketersediaan tenaga kerja rumah tangga di Kalimantan Barat berkisar  557 – 646 HOK pertahun dan di Riau 594 – 698 HOK. Dengan fakta ini akan berdampak terhadap kemudahan petani dalam memilih komoditas yang mereka usahakan. Persepsi petani contoh akan positip terhadap usahatani komoditas hortikultura dan tanaman pangan di Kalimantan Barat  dan komoditas kelapa sawit di Riau, karena kebutuhan tenaga kerja dari komoditas  hortikultura dan tanaman pangan (70 – 550 HOK) dan komoditas kelapa sawit (60 – 182 HOK) perhektar  dapat dipenuhi oleh tenaga kerja dalam keluarga.
Dari  Tabel 4 dan 5 menunjukkan bahwa dengan kelebihan tenaga kerja yang mereka miliki tersebut,  60 – 75 % petani contoh memiliki pekerjaan sampingan untuk menambah penghasilan mereka. Namun kenyataan ini harus menjadi perhatian, sebab dengan bekerja keluar cendrung  akan menelantarkan usahataninya. Keadaan ini akan berdampak tidak jalannya rencana kelompok tani seperti penanaman dan pemberantasan hama secara serentak, pembersihan saluran dll,bahkan lahan usahatani yang ditinggalkan bisa menjadi terakumulasinya hama dan menyebabkan kebakaran.
            Pengalaman berusahatani menentukan mudah tidaknya petani untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan biofisik, sosial ekonomi dan teknologi.Pengalaman berusahatani  petani contoh cukup tinggi, oleh karena itu mereka sudah dengan baik beradaptasi dengan lingkungannya
            Rata-rata petani  contoh mempunyai lahan yang cukup luas, dan jumlah tenaga kerja produktif akan mempengaruhi daya garap petani terhadap lahan tersebut. Dengan tenaga kerja produktif yang tersedia petani contoh tidak mampu menggarap seluruh lahan yang dimilikinya. Hal ini bisa berdampak  terakumulasinya hama dan terjadinya kebakaran lahan. Demikian juga dengan sebaran atau kisaran luas lahan yang cukup besar (di Kalimantan Barat  1,0 – 9,25 ha dan di Riau 1,0 – 21,25 ha perkepala keluarga) selain dapat menyebabkan terakumulasinya hama dan terjadinya kebakaran lahan,bisa pula menimbulkan gap antara petani yang berlahan sempit dengan petani yang berlahan luas. Sebagai contoh apabila dalam pengelolaan lahan ada iuran yang sama antara petani berlahan sempit dengan yang berlahan luas, maka akan mengakibatkan kecemburuan sehingga berdampak tidak kompaknya antar anggota dalam kelompok tani.

4.2.2.                   Sistem Usahatani
Luas wilayah Kalimantan Barat sekitar 146.807 km2, dari luasan tersebut ,lahan yang digunakan untuk pertanian sekitar 35.406,20 km2 atau sekitar 24,12%, berupa hutan 103.474 km2 (70,48%) dan sisanya digunakan untuk pemukiman dan lain-lain.  Berdasarkan tipologinya,dari luas areal baku pertanian sebesar 35.171 ha, secara umum didominasi oleh lahan potensial seluas 19.356 ha kemudian diikuti oleh lahan gambut seluas 9.595 ha, sedangkan lahan sulfat masam hanya meliputi areal seluas 2.110 ha dan bergambut seluas 3.710 ha. Kabupaten Pontianak dan Kabupaten Kubu Raya adalah dua kabupaten yang didominasi oleh lahan gambut dan bergambut, oleh karena itu dalam penelitian ini, kedua Kabupaten ini ditetapkan sebagai Kabupaten contoh. Dua desa yakni desa Galang dan Peniti Besar di kabupaten Pontianak dan  dua desa yakni desa Rasau Jaya II dan Kuala Dua di kabupaten Kubu Raya ditetapkan sebagai desa contoh.
            Desa Galang merupakan salah satu desa dari 9 desa yang terletak di kecamatan Sungai Pinyuh kabupaten Pontianak. Luas wilayah desa ini mencapai 7,75 km2 dan merupakan salah satu desa contoh dalam penelitian ini. Pembukaan lahan dilakukan oleh penduduk setempat untuk mendapatkan lahan pertanian dilahan gambut. Pada awalnya mereka melakukan penebangan pohon pohon besar dihutan secara berkelompok yang selanjutnya bakar. Kegiatan selanjutnya adalah membuat parit keliling agar air masam yang ada dihutan tidak masuk kepertanaman. Komoditas unggulan di desa ini adalah nenas dengan jumlah areal tanam terluas (368 ha) dibanding padi (35 ha), karet (131 ha) dan jagung (10 ha). Semua anggota kelompok tani yang ada ( 10 kelompok) melaksanakan usahatani nenas. Nenas Galang sangat terkenal di Kalimantan Barat karena mempunyai kadar gula yang tinggi dibanding nenas di desa lainnya. Penanaman nenas dimulai dengan membuka lahan gambut dan pembuatan parit keliling, kemudian dilakukan penanaman. Anakan perrumpun dipertahankan sebanyak 3 batang dan yang selebihnya diambil petani untuk dijual sebagai bibit atau anakan itu dicincang untuk dijadikan pupuk. Petani umumnya tidak melakukan pemupukan. Produktivitas nenas Galang sebesar 3 – 4 biji perpohon. Peningkatan produktivitas masih bisa ditingkatkan  apabila tersedia  zat perangsang tumbuh. Zat perangsang tumbuh ini sangat diperlukan petani untuk meningkatkan produktivitas pada saat buah nenas banyak diperlukan orang seperti pada hari hari raya.
            Salah satu desa dari 6 desa yang terletak di kecamatan Segedong Kabupaten Pontianak adalah desa Peniti Besar. Desa ini mempunyai luas wilayah sebesar 14,00 km2 dan merupakan desa yang terpilih sebagai desa contoh pada penelitian ini. Di kecamatan Segedong didominasi oleh lahan tadah hujan dan lahan gambut yang dari tahun ketahun terjadi penurunan pemanfaatan lahan tersebut diatas. Selain padi yang ditanam dilahan tadah hujan, juga ditanam jagung , ubi kayu,ubi jalar , sayuran  dan nenas dilahan gambut. Produktivitas jagung perhektar sebesar 2,3 ton perhektar, ubi kayu 14,40 ton perhektar dan ubi jalar 8 ton perhektar, sedangkan nenas  0,06 kuintal perpohon. Desa Peniti Besar mempunyai luas tanaman kelapa dalam yang terluas (1005 ha) dibanding lima desa lainnya di kecamatan Segedong. 
            Desa Rasau Jaya II adalah salah satu dari 6 desa yang terletak di kecamatan Rasau Jaya kabupaten Kubu Raya. Penduduk desa ini merupakan warga transmigran yang berasal dari Jawa Tengah yang  penempatannya pada tahun 1975. Pada awalnya jumlah penduduk yang datang hanya 53 KK dan sekarang penduduk desa berjumlah 4235 orang yang terdiri dari 2176 laki-laki dan 2059 perempuan. Kepadatan penduduk desa ini 117 orang perkm2 dan merupakan penduduk terjarang dibanding 5 desa lainnya. Pada awal kedatangan para transmigran, areal masih berupa hutan dan tebal gambut 4,25 m. Prasarana jalan tidak ada, yang ada hanya gambar jalan dan gambar saluran, sehingga kalau mau berjalan terpaksa harus merangkak Keadaan rumah yang disediakan sangat sederhana yakni dinding rumah setengah papan dan setengah kajang.  Setelah jatah hidup yang 1,5 tahun habis, maka dengan keadaan  sarana dan prasarana yang sangat terbatas membuat warga transmigran ingin kembali pulang dan dari 17 orang yang berasal dari Yogyakarta hanya 7 orang yang bertahan.
            Pada awal berusahatani, warga umumnya menanam singkong yang bisa tumbuh subur. Pengolahan tanah dilakukan dengan tebas, bakar lahan gambut dan tanam .Tahun 1981 pemerintah setempat baru membuat parit  sekunder, dan penduduk mulai mengusahakan tanaman jagung dengan menggunakan pupuk dari bakaran gambut. Hasil  jagung pada waktu itu hanya 20 kg per 0,25 ha. Produktivitas jagung sekarang mencapai 200 kg per 0,25 ha. Petani juga mulai menanam padi, tetapi sampai sekarang tidak pernah berhasil. Padi bisa tumbuh tetapi tidak pernah ada hasilnya. Agar warga bisa menanam padi,pada tahun 1995/1996 mereka membeli lahan dipatok 28 atau lahan diluar desa dan bisa menghasilkan padi 300kg persetengah hektar. Petani berusahatani menggunakan varietas local  seperti Gadis, Pantat Ulat dan  varietas unggul seperti ciherang. Untuk padi biasanya menggunakan pupuk, tetapi pupuk yang tersedia kadang palsu dan datangnya tidak tepat waktu.
            Tahun 2008 – 2009, pemerintah memasukkan program menanam nenas dan pada tahun 2011 dilakukan lagi pengerukan parit dengan membuat pintu air dan parit cacing.
            Kebakaran lahan hampir terjadi setiap musim kemarau, penyebabnya bisa saja karena pengolahan tanah yang biasanya membakar lahan. Untuk mengatasi hal ini biasanya petani melakukan pembakaran secara terkendali dengan membakar melawan arah angin dan ada peraturan desa yang mengharuskan petani membayar denda apabila sewaktu pengolahan tanah dengan membakar lahan mengakibatkan lahan orang lain ikut terbakar. Ditingkat kecamatan telah dibentuk satuan organisasi untuk upaya menanggulangi kebakaran lahan.
            Desa  Kuala Dua juga merupakan desa contoh yang terletak di kecamatan  Sungai Raya kabupaten Kuburaya.Menurut petani pada tahun 1997 pernah terjadi musim kering panjang, tetapi masih terdapat air di lahan (kolam 1 – 3 m). Kegiatan pembuatan saluran air dengan alat berat (excavator) menyebabkan saat ini permukaan air turun dan sulit mendapat air saat kemarau. Petani di Kuala Dua baru mulai menanam sayuran dan buah papaya pada tahun 1994, setelah sebelumnya mencoba menanam berbagai tanaman seperti jagung dan singkong. Setelah mengetahui teknis penanganan lahan gambut untuk pertanian seperti pengendalian bahan organic dengan pemberian abu sisa pembakaran pabrik penggergajian kayu dan penggunaan pupuk kandang, petani mulai dapat mengatur pola pertanian dan pemilihan komoditas yang diinginkan.
Sistem pengolahan lahan gambut di Kuala Dua adalah sebagai berikut, pada masa awal pembukaan lahan gambut dilakukan dengan cara pembakaran sisa semak dan tunggul kayu secara terkendali. Cara pembakaran ini hanya dilkukan pada saat pembersihan lahan saja atau pada saat merintis pembukaan lahan. Untuk tunggul kayu yang besar di dalam tanah dibiarkan membusuk di dalam tanah dengan harapan dapat terurai menyatu dengan tanah gambut. Untuk selanjutnya pengolahan lahan dilakukan untuk menghilangkan rumput yang mengganggu saja. Prosesnya dengan mencincang rumput dengan parang/arit kemudian dibuat kompos disekitar tanaman sayuran atau hortikultura.
Sistem pengairan dilakukan dengan cara penyiraman menggunakan selang diameter 0,75 – 1 Inchi. Air diambil dari kolam-kolam penampungan. Air di lahan gambut baru bisa disemprotkan bila sudah diendapkan terlebih dahulu sehingga partikel yang terdapat didalam air gambut mengendap. Jika tidak diendapkan dahulu, maka dapat menyebabkan penyumbatan di pompa air dan selang air.
Untuk mengendalikan air pada saat hujan, petani mengunakan system parit atau saluran cacing untuk mengatur ketersediaan air di lahan gambut. Petani menyesuaikan jumlah parit berdasarkan jenis tanaman yang ditanam di lahan usaha mereka. Untuk jenis tanaman yang membutuhkan air banyak seperti sayuran maka jumlah parit dibuat lebih sedikit untuk menghindari kehilangan air di lahan. Pembuatan saluran air di lahan gambut juga perlu mempertimbangkan daya ikat lahan gambut yang rendah, sehingga sangat mudah runtuh, atau tererosi.  Untuk memperbaiki sifat tanah, petani di Kuala Dua memberikan abu hasil pembakaran dari penggergajian kayu atau kapur. Hasil yang diperoleh dari pemberian kapur lebih bagus daripada hasil produksi dari pemberian abu. Selain abu dan kapur, petani juga biasa memberikan kotoran ayam untuk memperbaiki kesuburan tanah gambut. Berdasarkan pengalaman untuk jenis kacang-kacangan semakin matang bahan gambut di lahan, maka pengisian biji semakin bagus, kalau menggunakan lahan gambut yang baru dibuka maka biji yang dihasilkan kempes tak berisi. Prinsip umum yang dipegang petani di lahan gambut adalah bahwa gambut akan bertahan dan dapat ditanami jika menggunakan pupuk organik.

Tabel  6. Cara Pemupukan oleh Petani di Desa Kuala Dua, 2012


Masa Tanam
Abu
(Satuan Karung @20Kg)
Pupuk TA
(Satuan Karung @20Kg)
Luas Bedeng
Musim  Tanam 1
2
2
20 m x 80 cm

Musim Tanam 2
0,5 – 1
0,5 – 1


Musim Tanam 3
0,5 – 1
0,5 – 1



Menurut petani kunci keberhasilan bertani di lahan gambut baru adalah penggunaan abu dan pupuk kandang dengan perbandingan 2 :2, akan menjamin tanaman yang diusahakan bisa tumbuh. Untuk lahan atau bedengan bekas ditanami sayuran, masih bisa ditanami kembali dengan cukup menambahkan unsur hara yang kurang, misalnya N untuk tanaman sayuran dan pupuk NPK untuk jenis tanaman buah. Resiko utama bertani di lahan gambut pada musim hujan tanaman mudah busuk akibat serangan hama dan penyakit. Untuk musim kemarau dikhawatirkan terjadi kemarau panjang yang menyebabkan lahan gambut terlalu kering. Komoditas yang diusahakan diantaranya adalah sawi, cabai, buncis, timun,. Untuk tanaman hortikultura ditanam jenis buah srikaya, jambu, nanas, papaya, ubi jalar, singkong, jagung dan lengkeng. Prinsip yang digunakan petani bahwa tanaman berakar serabut dapat tumbuh di lahan gambut. Penetuan jenis tanaman di lahan gambut oleh para petani sangat ditentukan oleh :
1.    Kesesuaian jenis tanaman yang dapat tumbuh di lahan gambut
2.    Ketersediaan pupuk TA, abu, pupuk buatan, pupuk organic dan kapur
3.    Perkiraan ketersediaan air (cuaca)
4.    Ketersediaan pasokan produksi komoditas competitor, saat musim buah (langsat), produk papaya tidak laku (dibuang)
5.    Pola usaha tani (jagung tanpa tenaga kerja bisa untung dibanding dengan mengambil upah TK)
6.    Pola tanam polikultur bukan monokultur, semakin banyak jenis tanaman lebih bagus (resiko harga jatuh minimal)

Menurut  Dinas Pertanian dan Peternakan kabupaten Kubu Raya (2011), permasalahan yang ada dibidang pertanian adalah:
1.    Penguasaan lahan : adanya alih fungsi lahan dari lahan pertanian, lahan perkebunan sawit dan perumahan
2.    Infrastruktur pedesaan : sangat minim dan terbatas, da perlu perbaikan karena banyak yang rusak
3.    Modal : akses terbatas dan tidak ada jaminan
4.    Ketrampilan masih tradisional, produktivitas kinerja rendah, pengendalian OPT masih sangat rendah
5.    Teknologi : masih konvensional dan penerapan intensifikasi masih rendah
6.    Mentalitas : belum mengarah ke agribisnis dan kurangnya minat pemuda ke bidang pertanian
7.    Organisasi tani : banyak kelompok tani masih kelas pemula dan OPJA belum berjalan baik
8.    Kebijakan : rentang koordinasi masih besar, HPP bersifat umum
9.    Informasi : lambat dan kurang terjangkau dan jumlah mantra tani dan PPL masih kurang
10. Pengolahan dan pemasaran hasil : terbatasnya alat pengering biji-bijian, akses pasar kurang dan bersifat individu
            Sedangkan masalah dalam pengembangan hortikultura :
1.    Produksi hasil tidak sesuai permintaan pasar seperti kesinambungan pasokan, kualitas dan ketepatan waktu, produksi yang diusahakan masih sempit tersebar, komoditas yang diusahakan banyak, beragam tapi sedikit dan penerapan teknologi masih sangat rendah
2.    Dengan sifat musiman dan kesulitan jaminan pasar hasil produksi menyebabkan harga produk hortikultura fluktuatif dengan tingkat harga yang diterima petani sangat rendah pada saat panen
3.    Penerapan teknologi yang rendah disebabkan karena terbatasnya petani untuk dapat akses terhdap sumber modal, informasi teknologi dan tingkat harga
4.    Lemahnya kelembagaan pendukung petani seperti penyediaan sarana produksi, modal, teknologi dan pasar

Lahan gambut di Propinsi Riau tersebar diseluruh Kabupaten/Kota yang ada di Propinsi ini. Dari 11 Kabupaten/Kota yang terdapat di Propinsi ini, Kabupaten Indragiri Hilir dan Kabupaten Siak merupakan  Kabupaten yang cukup luas dalam memanfaatkan lahan gambut untuk pertanian. Oleh karena itu  dalam penelitian ini dua Kabupaten ini dipilih sebagai Kabupaten contoh.  Petani dilahan gambut Riau lebih banyak hidup sebagai pekebun dengan pola tanam pada awalnya adalah padi diusahakan pada lahan gambut tipis dan kelapa, pinang,karet. Nenas diusahakan pada lahan gambut sedang sampai dalam. Tanaman kelapa sawit akhir akhir ini menjadi pilihan baru dan berkembang sangat cepat baik perkebunan rakyat maupun perkebunan besar  petani  sawit di di desa contoh dibedakan atas petani pekebun rakyat dan petani plasma. Petani pekebun rakyat ini ada di dua desa contoh yang terletak di Kecamatan Kempas, Kabupaten Indragiri Hilir.Desa  ini  merupakan daerah transmigrasi umum, penempatan pemukiman tahun 1980. Etnis yang mendominasi berasal dari ; Banjar Negara, Jawa Barat, Kebumen, Magelang dan Pacitan. Pertanaman sawit dimulai pada tahun 2004. Pada awalnya lokasi pertanaman sawit diusahakan pada lahan I untuk masing-masing KK seluas 1 ha. Sistem Pertanaman sawit dilakukan dengan cara tumpang sari diatara tanaman kelapa dalam atau karet. Setelah tanaman sawit menghasilkan ( umur 4 tahun) secara bertahap dilakukan penebangan pada tanaman utama ( kelapa dan karet). Produksi sawit cendrung meningkat sampai umur sawit 7 tahun  dengan kisaran 300 kg/ bulan – 500 kg/ bulan pada umur 4 – 5 tahun, selanjutnya meningkat  1 ton/ha – 1,5 ton/ha perbulan  sampai umur 7 tahun, namun setelah lebih dari 7 tahun produksi sawit mulai berkurang secara drastis hingga tidak menghasilkan. Diduga hal ini disebabkan beberapa hal antara lain ; teknis budidaya yang tidak sesuai anjuran seperti penataan saluran irigasi , penggunaan varietas yang telah terdegradasi sehingga tidak menampilkan sifat unggul, pemupukan yang tidak sesuai secara kultur teknis, pengendalian hama dan penyakit yang masih rendah serta penangana pra panen dan pasca panen yang belum sesuai anjuran. Selain itu ditinjau dari aspek sosial budaya, petani belum mempunyai pengalaman dalam melakukan usahatani sawit sebelumnya . Selain rendahnya jumlah produksi per satuan luas juga mutu hasil dinilai rendah oleh fabric pengolahan sawit sehingga berpengaruh terhadap pendapatan yang diterima petani. Ketesediaan fasilitas pendukung usahatani pada tingkat petani relative belum dapat melayani kegiatan usahatani sawit petani, seperti ; jalan usahatani yang kurang baik, permodalan yang masih lemah, akses informasi teknologi masih rendah, pembinaan baik dari pemerintah maupun lembaga swasta seperti pengusaha sawit relative belum intensif serta kelembagaan pemasaran yang terkonsentrasi pada pedagang pengumpul local dan fabric pengolahan sawit dengan system monopolistic.
Dari luas lahan usaha I sekitar 170 ha, sebanyak 85 % telah ditanami sawit dengan kondisi pertanaman sekarang kurang produktif. Berkaitan dengan hal tersebut, ada kecenrungan petani untuk menggeser komoditas sawit kembali kepada kelapa dan karet, namun untuk memulai usaha tersebut memerlukan modal dan investasi yang cukup besar.
Sumber- sumber pendapatan petani selain sawit adalah ; usahatani tanaman pangan seperti padi dan palawija, sayuran serta peternakan ( sapi dan unggas) dalam skala kecil sehingga tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan keuangan keluarga. Pada Petani plasma melalui kemitraan dengan perusahaan, mulai dilakukan pada tahun 2005 dengan luas areal ini 40 % dan plasma 60 %. Sistim kemitraan yang dilakukan antara petani dengan perusahaan berupa pembagian lahan milik petani, dimana selua 40 % dikuasai oleh perusahaan yang merupakan perkebunan inti dan 60 % lahan plasma yang merupakan  ilik petani. Semua lahan ditanam oleh perusahaan dengan teknologi anjuran seperti ; penataan lahan, penggunaan varietas unggul , pemupukan dan perawatan yang dilakukan oleh perusahaan sampai tanaman menghasilkan ( umur 4 tahun). Setelah itu, lahan yang merupakan bagian petani diserahkan secara bertahap sesuai dengan kelayakan yang dinilai oleh perusahaan secara teknis telah dapat dikelola oleh petani untuk selanjutnya diusahakan oleh petani termasuk perawatan. Sebelum investasi perusahaan yang ditanamkan pada kebun plasma lunas ( sesuai kesepakatan nilai nominal yang telah ditentukan atau umur tanaman 12 tahun) maka hasil yang diperoleh dipotong oleh perusahaan melalui koperasi tani dan apabila hutang yang dinvestasikan perusahaan selesai, maka sertifikat tanah akan dikeluarkan menjadi milik petani plasma. Keragaan pada saat ini, umur tanaman sawit berkisar 5 – 8 tahun, tetapi belum ada penyerahan perawatan kebun plasma kepada petani, kendati sebagian lahan plasma sudah ada yang menghasilkan. Tidak ada transfer teknologi dari perusahaan kepada petani plasma serta tidak ada kejelasan secara detail tentang hasil yang diperoleh calon plasma yang saat ini masih dikelola oleh perusahaan secara transparan. Untuk itu, petani berharap agar pemerintah daerah dapat melakukan mediasi untuk menjembatani kesepakatan  sesuai dengan MOU yang telah dilakukan sebelumnya.
Sejarah pertanaman sawit yang diusahakan pada perkebunan rakyat, dilakukan sejak tahun 2004. Arus pertanaman sawit rakyat dimulai dengan melihat keberhasilan usaha tani sawit yang dilakukan petani dengan pola PIR. Pengalaman petani pada usahatani sawit bervariasi yaitu dari yang belum pernah memiliki pengalaman sampai dengan petani yang telah berpengalaman dalam budidaya sawit. Pada umumnya, petani yang berasal dari etnis melayu dan jawa relative tidak berpengalaman , sedangkan petani yang berasal dari sumatera utara telah memiliki pengalaman yang cukup dalam budidaya sawit.  Teknologi yang diterapkan petani pada umumnya masih sederhana yaitu ; penataan lahan yang belum sesuai dengan ketentuan teknis, penggunaan varietas asalan yaitu sekitar 70 % dari petani dan pemupukan yang belum sesuai anjuran.  Dilihat dari keragaan kelembagaan penunjang ditingkat petani, pada umumnya telah memiliki lembaga yang dapat melayani kegiatan usahatani, seperti kios saprodi, pedagang pengumpul , lembaga keuangan formal dan non formal. Nilai produksi secara kuantitas dan kualitas relative lebih baik disbanding kabupaten Ind.Hilir yaitu sekitar  1 – 2 ton/ha per bulan dengan harga yang cukup kompetitif.
Pada usahatani dengan pola kemitraan dilakukan dalam bentuk PIR dengan bapak angkat berasal dari PTPN V. Pada pola ini, sistim kerjasama dilakukan dalam bentuk penjualan hasil yang dipotong perusahaan sesuai dengan nilai investasi yang telah ditanamkan. Petani plasma berasal dari transmigrasi umum sebanyak 70 % dan local 30 %. Pertanaman dimulai sejak tahun 1989. Keragaan pertanaman saat ini, meruapakan tanaman tua yang perlu dilakukan replanting karena produktifitas yang mulai menurun. Pada awalnya, petani bekerja di perkebunan sawit yang semuanya diusahakan oleh PTPN V sampai dengan tanaman mulai menghasilakan ( umur 4 tahun) untuk selanjutnya diserahkan pengelolaannya kepada petani, samapai nilai hutang yang telah disepakati lunas. Setelah itu diberikan sertifikat hak milik kepada petani dengan kisaran umur pertanaman 9 – 11 tahun. Pada sisitim ini, ada transfer teknologi yang dilakukan perusahaan kepada petani plasma. Telah memiliki koperasi dengan status mandiri yang sampai saat ini telah memilik cabang usaha yang cukup banyak antara lain; simpan pinjaman, penjualan hasil sawit, transportasi , saprodi dan barang kebutuhan harian dengan nilai kekayaan koperasi > 6 miliyar. Permasalahannya saat ini, selain menurunnya produktifitas hasil, petani tidak memiliki cukup modal untuk melakukan replanting, dimana dana yang diperlukan per hektar sekitar Rp 50 juta rupiah.
4.2.3.   Pendapatan dan Pengeluaran Rumah Tangga
            Sumber pendapatan petani contoh berasal dari tanaman pangan,tanaman tahunan,tanaman hortikultura, ternak dan dari non pertanian  (Tabel 7 dan 8). Di Kabupaten Pontianak Kalimantan Barat sumber pendapatan utama berasal dari tanaman hortikultura (60%) kemudian diikuti oleh non pertanian (32%). Sebaliknya di kabupaten Kubu Raya,sumber pendapatan utama berasal dari non pertanian (34%) dan tanaman hortikultura (25%). Sedangkan di Riau, sumber pendapatan utama berasal dari komoditas kelapa sawit yakni 60% untuk kabupaten Indragiri Hilir dan 51% di kabupaten Siak.  Total pendapatan rumah tangga pertahun per kepala keluarga di Riau lebih besar dibandingkan total pendapatan rumah tangga di Kalimantan Barat. Hal ini disebabkan karena luas garapan di Riau lebih besar ( 2,88 – 5,51 ha) dibanding luas garapan di Kalimantan Barat (2,69 -2,93 ha).
           
Tabel 7. Sumber pendapatan dan pengeluaran pertahun rumah tangga petani  di lahan gambut, Kalimantan Barat, 2012

Uraian
Kabupaten
Pontianak
Kubu Raya
I.    Sumber Pendapatan


A.   Pertanian


1.  Tanaman Pangan
550.000
7.733.645
2.  Tanaman Tahunan
-
-
3.  Tanaman Hortikultura
15.107.500
8.055.876
4.  Ternak
1.322.000
5.477.997
5.  Buruh Tani
-
-
B.   Non Pertanian
8.121.146
10.955.994
Total
25.100.646
32.223.512
    II.  Pengeluaran
22.865.000
26.201.500
   III.  Selisih I – II
2.235.646
6.022.012
Tabel  8.   Sumber pendapatan dan pengeluaran pertahun rumah tangga petani di lahan gambut, Riau, 2012.

Uraian
Kabupaten
Indragiri Hilir
Siak
I.         Sumber Pendapatan


A.   Pertanian


1.  Tanaman Pangan
2.189.721
150.000
2.  Tanaman Tahunan
23.381.111
18.873.750
3.  Tanaman Hortikultura
-
-
4.  Ternak
757.500
960.500
5.  Buruh Tani
-
-
B.   Non Pertanian
8.964.999
16.993.750
      Total
35.293.331
36.977.500
    II.  Pengeluaran
29.046.000
29.281.000
   III.  Selisih I – II
6.247.331
7.696.500

            Pendapatan rumah tangga di Riau yang tinggi diikuti pula oleh pengeluaran rumah tangga yang lebih tinggi dibanding di Kalimantan Barat. Sesuai dengan pendapat Berg (1986) bahwa rumah tangga dengan pendapatan tinggi dapat membeli pangan yang beragam dan dalam jumlah yang lebih banyak dibandingkan dengan rumah tangga yang berpenghasilan rendah. Dengan keadaan ini menyebabkan selisih pendapatan dan pengeluaran dikedua provinsi ini relative sama kecuali kabupaten Pontianak.
            Selisih antara pendapatan dan pengeluaran merupakan modal yang disediakan untuk usahatani pada musim berikutnya. Apabila pertanian berubah dari corak subsisten kekomersil seperti mengusahakan tanaman hortikultura dan kelapa sawit, maka ketersediaan modal  menjadi penting. Sebab setelah lahan, modal nomor dua pentingnya dalam produksi pertanian dalam arti sumbangannya pada nilai produksi. Seperti diketahui modal adalah barang atau uang yang bersama-sama faktor produksi lainnya seperti  tanah dan tenaga kerja dapat menghasilkan barang baru. Oleh karena itu modal dapat menghasilkan barang baru atau alat untuk menumpuk pendapatan sehingga setiap orang selalu ada minat untuk  menciptakan modal. Bila petani selalu mengkonsumsikan hasil panennya tanpa memikirkan penciptaan modal maka pertaniannya akan mundur, karena itu penciptaan modal oleh petani selalu berarti menyisihkan kekayaannya atau sebagian produksinya untuk tujuan yang produktif dan uang tunai harus tersedia bila diperlukan untuk keperluan hidup keluarga dan untuk membeli sarana produksi untuk melaksanakan usahataninya. Apabila pembayaran tidak bias dipenuhi dari pendapatan tahun sebelumnya, maka diperlukan kredit.
            Kisaran modal petani contoh di Kalimantan Barat dan Riau  Rp 2.235.646 – Rp 7.696.500,  oleh karena itu pilihan komoditas yang diusahakan tergantung dengan biaya produksi komoditas yang ada. Di Kalimantan Barat komoditas nenas  merupakan pilihan utama yang diusahakan petani karena biaya produksi yang relatip lebih rendah dan pemeliharaan nya lebih mudah dibanding komoditas lain.
Sedangkan di Riau komoditas kelapa sawit menjadi komoditas utama yang diusahakan petani.

4.2.4.   Analisis Usahatani
            Analisis usahatani komoditas hortikultura di Kalimantan Barat dan kelapa sawit di Riau dapat dilihat pada tabel 9, 10 dan 11.

Tabel 9.  Analisis biaya dan pendapatan usaha tani di lahan gambut, Kabupaten Pontianak, Kalimantan Barat. 2012.

No
Komoditas
Produksi
(Kg/Ha)
Penerimaan (Rp)
Biaya Produksi (Rp)
Keuntungan (Rp)
R/C
1
Jagung¹
2.146
7.731.200
4.561.408
3.169.792
1,69

2
Ubi Rambat¹
11.000
27.500.000
15.225.000
12.275.000
1,81

3
Ubi Kayu¹
12.894
16.117.500
8.864.625
7.252.875
1,81

4
Nenas¹
7.555
12.012.500
4.805.000
7.207.500
2,50

5
Timun²
157
549.500
302.225
447.607
1,81

6
Kacang Panjang²
180
720.000
410.400
309.000
1,75

7
Sawi²
553
1.382.500
760.375
622.125
1,82

Keterangan : 1 Dalam luasan 1 ha ; 2. Dalam luasan 0,1 ha







Tabel  10. Analisis biaya dan pendapatan usahatani d ilahan gambut, Kabupaten Kubu Raya Kalimantan Barat,  2012

No
Komoditas
Produksi (Kg)
Penerimaan (Rp)
Biaya Produksi (Rp)
Keuntungan (Rp)
R/C
1
Padi Unggul¹
2.050
7.175.000
4.478.000
2.697.000
1,60
2
Jagung¹
2.897
9.270.400
5.740.000
3.530.400
1,62
3
Ubi rambat¹
7.773
   19.432.500
11.512.284
7.920.216
1,69
4
Kac tanah¹
1.235
9.880.000
6.642.500
3.237.500
1,48
5
Ubi kayu¹
    14.385
   17.981.250
9.889.680
8.091.570
1,,82
6
Lida buaya¹
    13.500
   20.250.000
12.150.000
8.100.000
1,67
7
Nenas¹
5.550
8.824.500
3.618.045
5.206.455
2,44
8
Timun²
   559
1.956.500
1.076.075
   880.425
1,82
9
Terong²
  286
1.716.000
1.184.040
   531.960
1,45
10
Sawi²
  351
   877.500
   408.038
  469.462
2,15
11
Bayam²
  296
  888.000
   461.760
  426.240
1,92
12
Cabe²
  113
  678.000
  421.377
  256.623
1,61
Keterangan : 1Dalam luasan 1 ha; 2Dalam luasan 0,1 ha

Tabel  11. Analisis Investasi usahatani kelapa sawit dilahan gambut Riau. 2012
Kriteria Investasi
Kabupaten Inhil¹
Kabupaten Siak²
DF 10 %
DF 12%
DF 10%
DF 12%
B/C
1,00
0,96
1,29
1,26
NPV
351571
- 1311577
14359064
12125303
IRR
10,40
10,40
19,96
20
Keterangan : 1,2 Rata-rata dari 2 desa

            Komoditas tanaman pangan dan hortikultura yang diusahakan petani contoh di kabupaten Kubu Raya lebih beragam dibanding  kabupaten Pontianak. Nilai hasil atau penerimaan adalah hasil perkalian antara produksi dan harga hasil. Penerimaan tertinggi di kabupaten Pontianak adalah komoditas ubi rambat, sedangkan di Kubu Raya komoditas lidah buaya,hal ini disebabkan produktivitas kedua komoditas tersebut cukup tinggi. Sedangkan untuk penerimaan komoditas kelapa sawit, dikabupaten Siak memperlihatkan penerimaan  yang lebih besar dibanding dari kabupaten Inhil,ini disebabkan produktivitas kelapa sawit perhektar di kabupaten Siak jauh lebih tinggi dibanding kabupaten Inhil.
            Demikian juga dengan biaya produksi,komoditas ubi rambat, lidah buaya dan kelapa sawit memperlihatkan biaya produksi yang lebih besar dibanding komoditas lainnya.
            Hasil analisis biaya dan pendapatan menunjukkan bahwa  komoditas nenas di Kalimantan Barat paling layak secara ekonomis karena  menguntungkan dan paling efisien  ( R/C  tertinggi ) dibanding komoditas  lain.Sedangkan dari hasil analisis investasi , kelapa sawit yang diusahakan di kabupaten Siak layak secara ekonomis yang ditunjukkan oleh nilai B/C > 1, nilai NPV positip dan nilai IRR lebih besar dari tingkat bunga yang berlaku baik pada DF 10% maupun DF 12%. Dari hasil analisis ini memperlihatkan bahwa pilihan petani di desa Bayas Jaya dan Kempas Jaya di kabupaten Inhil yang mengganti tanaman sawit dengan karet merupakan pilihan yang tepat .

4.2.5. Kelembagaan
            Salah satu upaya peningkatan produksi pertanian untuk pembangunan ekonomi ialah pembentukan dan pembinaan kelembagaan formal maupun non formal antara lain meliputi pembinaan kelompok tani, peningkatan prasarana KUD/koperasi dan penyuluhan.
            Kelembagaan faktor pendukung dapat dilihat dari tanggapan petani terhadap peranan kelembagaan tertentu, dan informasi ini penting artinya untuk melihat apakah lembaga-lembaga tersebut mampu memberikan pelayanan yang tepat waktu, tepat mutu untuk menunjang pertanian dilahan gambut (Tabel 11 dan 12).

Tabel 11. Efektifitas lembaga pendukung menurut petani di lahan gambut Kalimantan Barat, 2012
No
Lembaga Pelayanan
Kab Pontianak
Kab Kubu Raya
Rerata
Efektif
Tidak Efektif
Tidak Tahu
Efektif
Tidak Efektif
Tidak Tahu
Efektif
Tidak Efektif
Tidak Tahu
1
Penyuluhan
40
60
-
60
40
-
50
50
-
2
KUD
28
60
12
14
50
36
21
55
24
3
Kelompok Tani
60
40
-
82
18
-
71
29
-
4
Gotong Royong
57
43
-
93
7
-
75
25
-
5
P3A
-
-
-

-
-




Tabel  12. Efektifitas  lembaga pendukung di lahan gambut Riau. 2012
No
Lembaga Pelayanan
Kabupaten Inhil
Kabupaten Kubu Siak
Rerata
Efektif
Tidak Efektif
Tidak Tahu
Efektif
Tidak Efektif
Tidak Tahu
Efektif
Tidak Efektif
Tidak Tahu
1
Penyuluh Pertanian
30
70
-
60
30
-
45
50
-
2
KUD/Koperasi
50
50
-
60
40
-
55
45
-
3
Kelompok Tani
25
75
-
75
25
-
50
50
-
4
Gotong Royong
85
15
-
85
15
-
85
15
-
5
P3A
25
75
-
25
75
-
25
75
-

            Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata tanggapan petani di Kalimantan Barat terhadap kelembagaan penyuluh berimbang antara efektif dan yang tidak efektif, koperasi atau KUD tidak efektif, klompok tani dan gotong royong cukup efektif. Sedangkan di Riau peranan penyuluh KUD/Koperasi dan P3A tidak efektif, gotong royong efektif dan kelompok tani seimbang antara efektif dan tidak efektif. Keefektifan kelompok tani dan gotong royong dapt dilihat dari masih adanya pertemuan kelompok secara rutin yang digunakan untuk memecahkan permasalahan dilapangan, demikian juga gotong royong masih efektif dilakukan petani seperti pembersihan lingkungan dan perbaikan sarana dan prasarana yang ada.
             













                                                                                   V.          KESIMPULAN DAN SARAN

Dari uraian hasil penelitian dan pembahasan yang dikemukakan di atas dapat disimpulkan dan disarankan antara lain :
1.      Pemanfaatan lahan gambut untuk tanaman pangan (padi, palawija, sayuran, horti, nenas, lidah buaya di Kalbar masih bersifat individual dan semata-mata untuk pendapatan keluarga dan kurang kompetitif
2.      Pemanfaatan lahan gambut untuk sawit di Riau lebih berorientasi bisnis bermitra dengan perusahaan umumnya.
3.      Pemanfaatan gambut tebal untuk pengembangan kelapa sawit yang berkembang dalam 5-10 tahun terakhir karena sumberdaya lahan terbatas.
4.      Produktivtas tanaman rata-rata rendah karena input rendah dan modal terrbatas dapat ditingkatkan.
5.      Pola tanam polikultur bukan monokultur, semakin banyak jenis tanaman lebih bagus (resiko harga jatuh minimal) – kaidah keseimbangan lingkungan.
6.      Komoditas nenas di Kalbar mempunyai nilai ekonomi paling layak secara ekonomis karena  menguntungkan dan paling efisien  ( R/C  tertinggi ).  Investasi ,kelapa sawit yang diusahakan di kabupaten Siak layak secara ekonomis (B/C > 1, nilai NPV positip dan nilai IRR lebih besar dari tingkat bunga yang berlaku (DF 10% maupun DF 12%); pilihan petani di desa Bayas Jaya dan Kempas Jaya di kabupaten Inhil yang mengganti tanaman sawit dengan karet merupakan pilihan yang tepat .
7.      Kelembagaan penyuluh di Kalbar berimbang antara efektif dan yang tidak efektif, koperasi atau KUD tidak efektif, klompok tani dan gotong royong cukup efektif, di kelmebgaan penyuluh, KUD/Koperasi dan P3A tidak efektif, gotong royong efektif dan kelompok tani seimbang antara efektif dan tidak efektif.








DAFTAR PUSTAKA
BALAI PENELITIAN TANAH. 2004. Petunjuk Teknis Pengamatan Tanah. 117 Hlm.
Collier, W.L. K. Santoso, Soentoro, dan R. Wibowo. 1996. Pendekatan Baru dalam Pembangunan Pedesaan di Jawa: Kajian Pedesaan Selama 25 Tahun. Yayasan obor.Jakarta.188 Hlm.
Dinas pertanian dan peternakan kabupaten Kubu Raya. 2011, Laporan tahunan, dinas pertanian dan peternakan Kubu Raya. tahun 2011
IPCC. 2000. A Special Report of IPCC. Intergovermantal Panen on Climate Change.  Cambridge Univ. Press. Cambridge. 375 pp.
Hadi, S.P. 2001. Dimensi Lingkungan dalam Perencanaan Pembangunan. Gadjah Mada Press. Yogyakarta.143 Hlm
Lambert, K. 1995. Phyisico-chemical Characterisition of Lowland Tropical Peat Soils. Thesis Doktor (PhD) Faculty of Agriculture and Applied Biological Sciences. Section Agriculture. Gent Univ. Belgium, 161 p
Noor, M. 2010. Lahan Gambut : Pengembangan, Konservasi, dan Perubahan Iklim. Gadjah Mada Univ. Press. Yogyakarta. 212 Hlm.
Noorginayuwati dan M. Noor, 1999. Karakteristik agrofisik lahan dan sosial ekonomi penyebab dan dampak kebakaran gambut. Journal Ilmiah Kalimantan Agrikultura. Vo 6 (3) : 98-106. Fakultas Pertanian Univ Lambung Mangkurat Banjarbaru.
Melling, L. R. Hatano, K.J. Goh. 2005. Soil CO2 flux from three ecosystem in tropical peatland of Serawak, Malaysia. Tellus  57B: 1-11. UK
______________. 2008. Comparative study between greenhouse gas fluxes from a forest and an oil palm plantation on tropical peatland of Sarawak, Malaysia. Paper presented at Int. Conf. on Oil Palm Environt (ICOPE), Bali, 15-16 November 2007.
Radjagukguk, 2010. Efek pemanfaatan lahan gambut terhadap pemanasan global. Makalah Seminar Nasional Revitalsiasi Pembangunan Lingkungan Pertanian dalam Menghadapi Global Warming, Banjarbaru. 11 Maret 2010.
Rogers, E  M. 1969. Modernization Among Peasant, The Impact of Communication. New York : Halt Rienhart on Winston, Inc.
Puslitbangtan, 1991.. Potensi, Kendala dan peluang Pembangunan Pertanian. Pros. Lokakarya Pelatihan Pemahaman pedesaan dalam Waktu Singkat (PPWS). Penyunting  Asep Saefuddin, A, K. Suradisastra, dan H. Kasim. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. Bogor.
Suryabrata, S. 1983. Metodologi Penelitian.. Rajawali Pers. Jakarta. 127 Hlm
Suryanto, 1994. Improvement of the P Nutrient Status of Tropical Ombrogenous Peat Soils from Pontianak, West Kalimantan, Indonesia. Thesis Doktor Faculty of Agriculture and Applied Biological Science. Gent Univ. Belgium, 216 p.

0 komentar:

Poskan Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites