Senin, 31 Desember 2012

Pengembangan Hortikultura di Lahan Gambut



PENGEMBANGAN TEKNOLOGI  BUDIDAYA DAN AGRIBISNIS
 HORTIKULTURA DI LAHAN GAMBUT 
:  Prospek, Kendala dalam Perspektif  Perubahan Iklim

Muhammad Noor
                                                                             

RINGKASAN

Isu tentang perubahan iklim dan pemanasan global berkenaan dengan pemanfaatan lahan gambut untuk pengembangan pertanian semakin kuat dalam dekade terakhir ini.  Lahan gambut adalah sebuah ekosistem alami yang penting dan bernilai tinggi karena fungsinya dalam keanekaragaman hayati, pengaturan iklim, penyimpan dan penyedia air, dan tempat bergantungnya kehidupan bagi jutaan penduduk bumi. Hanya saja lahan gambut juga dinilai sebagai penyumbang emisi gas rumah kaca (GRK), seperti karbon dioksida (CO2), metan (CH4), dan dinitro oksida (N2O) yang berdampak pada perubahan iklim dan pemanasan global. Pemerintah merencanakan menurunkan emisi GRK sebesar 26% secara unilateral dan 41% jika ada dukungan negara maju pada tahun 2020, dimana  9,5-13,0% dari target penurunan GRK tersebut di atas dialokasikan pada lahan gambut. Pengembangan hortikultura (sayur dan buah-buahan) di lahan gambut berkembang dimulai dari upaya masyarakat lokal setempat yang sehari-harinya hidup di kawasan gambut. Masyarakat setempat di lahan gambut tidak mempunyai pilihan lain atau terbatas, kecuali berupaya memberdayakan lahan gambut tersebut sebaik-baiknya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dengan bertanam,  beternak, menangkap ikan atau berburu. Beberapa wilayah lahan gambut telah berkembang menjadi pusat produksi tanaman hortikultura yang cukup baik dan maju.  Hasil kajian dan penelitian menunjukkan beberapa prospek disamping kendala baik dari aspek lahan dan lingkungan,  aspek permintaan, aspek produksi dan agribisnis, maupun aspek biaya dan pendapatan dalam upaya pengembangan lahan gambut untuk budidaya dan agribisnis hortikultura. Pengembangan tanaman hortikultura di lahan gambut dalam persepektif perubahan iklim ke depan dihadapkan pada upaya mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim sehingga memerlukan teknologi budidaya dan pengelolaan lahan dengan tingkat emisi GRK yang rendah.


Makalah disajikan pada Seminar Nasional Hortikultura 2010 yang diselenggarakan oleh Universitas Udayana dan Perhimpunan Hortikultura Indonesia (PERHORTI) ,  Denpasar_Bali, 25-26 November 2010





I.               PENDAHULUAN
Isu tentang perubahan iklim dan pemanasan global berkenaan dengan pemanfaatan lahan gambut untuk pengembangan pertanian semakin kuat dalam dekade terakhir ini.  Lahan gambut adalah sebuah ekosistem alami yang penting dan bernilai tinggi karena fungsinya dalam keanekaragaman hayati, pengaturan iklim, penyimpan dan penyedia air, dan tempat bergantungnya kehidupan bagi jutaan penduduk bumi. Hanya saja lahan gambut juga dinilai sebagai penyumbang emisi gas rumah kaca (GRK), seperti karbon dioksida (CO2), metan (CH4), dan dinitro oksida (N2O) yang berdampak pada perubahan iklim dan pemanasan global. Emisi GRK sendiri secara nasional cenderung meningkat setiap tahun yang juga sebetulnya akibat meningkatnya pemakaian bahan bakar fosil dari minyak bumi, gasi alam, dan batu bara baik untuk kepentingan listrik dan energi seperti transportasi, industri, pabrik-pabrik  maupun kepentingan rumah tangga.
Pilihan terhadap lahan gambut sebagai lahan pertanian awalnya diilhami oleh keberhasilan masyarakat lokal dalam pemanfaatannya untuk pertanian baik tanaman pangan maupun perkebunan.  Pemanfaatan lahan gambut didorong oleh karena konversi lahan, kebutuhan pangan, kebutuhan devisa, kebutuhan energi (biofuel) untuk  menghidupi seperempat milyar (237,5 juta jiwa) penduduk yang setiap tahun bertambah 350 ribu jiwa. Pemerintah daerah yang mempunyai lahan gambut juga mendapatkan dorongan kuat dari masyarakatnya yang lahannya sudah puluhan tahun tanpa menghasilkan sesuatupun, kecuali sebagai lahan bongkor yang terbakar setiap tahun. Pemanfaatan lahan gambut untuk pertanian, khususnya tanaman hortikultura (sayuran dan buah-buahan) banyak dikenal pada wilayah transmigrasi dan secara terbatas pada beberapa wilayah lokal yang tersebar di Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi.
Kebijakan pemerintah tentang lahan gambut, seperti Peraturan Menteri Pertanian No 14/2009, tentang Pedoman Pemanfaatan Lahan Gambut untuk Budidaya Kelapa Sawit, Pembukaan atau Penyiapan Lahan Tanpa Bakar (PLTB), dibentuknya Tim Pengendalian Kebakaran Lahan Gambut, Kelompok Kerja (Pokja) Pengelolaan Lahan Gambut dan  Konsorsium Pengelolaan Lahan Gambut menunjukkan bahwa komitmen terhadap pengelolaan lahan gambut dari banyak pihak lebih dari cukup. Keikutsertaan Indonesia dalam berbagai kesepakatan internasional seperti Konvensi Keanekaragaman Hayati (CBD), Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC) dan Konvensi Ramsar tentang Konservasi Lahan Basah, yang telah dituangkan dalam undang-undang juga merupakan bagian ketentuan-ketentuan tentang pemanfaatan lahan gambut. Tidak kurang, komitmen Indonesia yang disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudiyono  di Pittsburg, Amerika Serikat (September, 2009) dan di Copenhagen pada Konferensi G-20 dan COP-15 (Desember, 2009) yang menyatakan akan menurunkan emisi GRK sebesar 26% secara unilateral dan 41% jika ada dukungan negara maju pada tahun 2020. Permasalahannya  penurunan emisi 9,5-13,0% dari 26% di atas dialokasikan pada lahan gambut yang berujung pada rencana program aksi adanya moratorium. Hanya saja upaya atau program aksi moratorium ini masih memerlukan beberapa pertimbangan terkait dengan rasa keadilan dan keberpihakan kepada masyarakat. 
Tulisan ini dimaksudkan mengemukakan tentang pengembangan teknologi budidaya dan agribisnis tanaman hortikultura (sayur dan buah-buahan)  di lahan gambut meliputi kendala dan peluang pengembangan dan perspektif perubahan iklim. 


II.            PROSPEK DAN KENDALA  PENGEMBANGAN HORTIKLULTURA
DI LAHAN GAMBUT

Pengembangan hortikultura (sayur dan buah-buahan) di lahan gambut berkembang dimulai dari upaya masyarakat lokal setempat yang sehari-harinya hidup di kawasan gambut. Masyarakat setempat di lahan gambut tidak mempunyai pilihan lain atau terbatas, kecuali berupaya memberdayakan lahan gambut tersebut sebaik-baiknya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dengan bertanam,  beternak, menangkap ikan atau berburu. Secara turun temurun masyarakat lokal setempat  membuka lahan dan menanaminya secara lebih luas seiring bertambahnya jumlah keluarga. Jenis tanaman pangan yang ditanam antara lain  padi, sagu, ubi, jagung, kedelai dan beragam sayur-mayur; tanaman keras/kebun antara lain karet, rotan, kelapa, jeruk, nenas, dsb, termasuk temu-temuan (jahe, kunyit, temulawak dsb).  Berikut adalah uraian hasil kajian dan penelitian tentang prospek dan kendala  pengembangan teknologi budidaya dan agribisnis hortikultura di lahan gambut meliputi  1). aspek lahan dan lingkungan, 2 aspek permintaan, 3) aspek produksi dan agribisnis, dan 4) aspek biaya dan pendapatan.

2.1.   Kajian Aspek Lahan dan Lingkungan
Lahan gambut dicirikan oleh genangan karena pengaruh gerakan pasang surut pada rawa pasang surut dan genangan akibat pengaruh curah hujan dan banjir kiriman dari daerah terestarial  khususnya pada rawa lebak.  Oleh karena itu maka pemanfaatan lahan gmabut untuk pengembangan hortikultura memerlukan penataan lahan dan pengelolaan air. Penataan lahan dengan model surjan memberikan peluang bagi pengembangan sayuran di lahan rawa.  Bentuk dan ukuran surjan disesuaikan dengan sifat-sifat tanah fisik lingkungan seperti tipe luapan, tipologi lahan dan tinggi genangan pada lahan rawa lebak serta kemampuan petani. Pembuatan surjan dapat secara bertahap, khususnya apabila dimanfaatkan juga untuk tanaman keras atau perkebunanan sehingga semakin besar tanaman semakin diperlebar surjannya  (Noor et al., 2006). Lahan gambut mempunyai sifat marginal dan rapuh (fragile) yang antara lain mempunyai lapisan gambut tebal.  Budidaya hortikuluta  di lahan gambut ini tergantung pada pengelolaan air, tanah dan jenis tanaman hortikulutra yang dibudidayakan. Pada lahan gambut budidaya hortikulutra umumnya pada lahan rawa pasang surut tipe C dan D dengan membuat bedengan dan saluran-saluran kemalir.  Pada lahan gambut tebal atau gambut rawa lebak sayuran dibudidayakan pada musim kemarau dengan membuat bedengan dan saluran-saluran kemalir secara sederhana.   Budidaya sayuran di lahan gambut tebal di Kalimantan Barat (sekitar 2 km dari Kota Pontianak) dan di Kalimantan Tengah (Kelampangan sekitar 7 km dari Kota Palangka Raya) cukup berhasil. Kemampuan dan pengetahuan petani dalam budidaya sayuran di lahan gambut ini cukup baik dan menguntungkan (Lestari et al., 2006; Alwi et al., 2006). Lahan rawa juga mempunyai lapisan senyawa pirit (FeS2) dengan berbagai kedalaman. Senyawa pirit ini apabila terekspose atau teroksidasi maka akan menghasilkan ion sulfat (SO4-2 dan hidrogen (H+) yang mengakibatkan terjadinya pemasaman tanah dan air (pH 2-3).  Pirit stabil dalam kondisi anaaerob atau tergenang. Pada kondisi masam ini sebagian P dan K terjerap dan tidak tersedia, sebaliknya ion-ion  Al, Fe dan Mn meningkat kelarutannya dalam tanah sehingga meracun tanaman.  Sebaliknya pada kondisi anaerob H2S dan  Fe2+ (besi II) meningkat. Pengelolaan air dan perbaikan tanah dalam pemanfaatan lahan rawa untuk budidaya sayuran merupakan salah satu kunci keberhasilan usaha tani di lahan rawa (Alihamsyah, et al., 2003, Noor et al., 2006). 
Tanaman hortikultura umumnya menghendaki pH 6-7 dan ketersediaan hara N, P, dan K yang cukup. Oleh karena itu pemanfaatan lahan rawa untuk budidaya tanaman pertanian, termasuk sayuran memerlukan bahan amelioran (seperti kapur atau dolomit,  fosfat alam),  pupuk organik dan anorganik. Selain itu pada musim kamarau diperlukan mulsa penutup muka tanah untuk mempertahankan lengas dan suhu  tanah.  Lingkungan rawa merupakan lingkungan yang dikenal mempunyai tingkat virulensi tinggi. Hama, serangga, dan penyakit tanaman cukup tinggi sehingga memerlukan pengelolaan hama dan penyakit terpadu apalagi tanaman sayuran sangat rentan diserang oleh organisme pengganggu tanaman.  Pemilihan jenis komoditas dan varietas yang tahan baik terhadap kondisi lahan maupun sebagai siasat menahan serangan hama dan penyakit tanaman diperlukan untuk menghindari kegagalan dalam usaha tani di lahan rawa.
Tingkat produktivitas lahan gambut sangat beragam dipengaruhi oleh ketebalan, kematangan, lapisan substratum dibawahnya, bahan penyusun, lingkungan pembentukan, dan pengelolaan atau input yang diberikan yang penting menjadi pertimbangan dalam penentuan kriteria kesesuaian untuk pembukaan lahan gambut.  Secara umum produktivitas  gambut dangkal – menengah (tebal 50-200 cm) lebih tinggi daripada gambut dalam (tebal > 3 m), gambut matang (saprik-hemik) lebih baik dibandingkan gambut mentah (fibrik), gambut yang substratum bawahnya liat (marine clay) lebih subur dibandingkan pasir (kuarsa), gambut seratan lebih subur dibandingkan gambut kayuan (woodpeat), gambut rawa lebak lebih subur daripada gambut rawa pasang surut, gambut dataran tinggi (vulkanik) lebih subur daripada dataran rendah, dan gambut yang ada di Sumatera lebih subur di bandingkan gambut di Kalimantan.  Dengan demikian, maka upaya atau cara peningkatan produktivitas lahan gambut sangat ditentukan oleh karakteristik atau sifat dan watak inherence dari lahan gambut yang dikelola. Hal ini juga menunjukkan pentingnya karakterisasi atau penyidikan awal untuk penentuan input dan cara pengelolaan yang tepat. 

2.2.   Kajian Aspek Pemintaan

            Permintaan pasar terhadap hortikultura (sayur dan buah-buahan) meningkat seiring dengan kemajuan pengetahuan dan kesadaran, serta perbaikan sosial ekonomi masyarakat.  Menurut Rachman (1997) konsumen dan permintaan produk sayuran di Indonesia mempunyai ciri-ciri antara lain  (1) konsumsi tetap/datar sepanjang tahun, cenderung meningkat singkat pada hari-hari besar keagamaan, (2) tingkat konsumsi sayuran per kapita (BPS, 1993) pada golongan pendapatan rendah masih terbatas yaitu 25,8 kg/kapita/tahun, dan (3) terdapat kecenderungan peningkatan konsumsi dengan meningkatnya pendapatan, (4) pusat yang potensial bagi pengembangan hortikultura adalah pusat-pusat konsumsi yang berada di kota-kota besar, dan (5) komditas sayuran yang dikonsumsi  masyarakat bervariasi tergantung pada harga komoditas, ketersedian dan harga barang lain (sebagai substitusi atau komplementer), tingkat pendapatan, dan preferensi masyarakat. 
            Dari 30 jenis sayuran yang dikonsumsi dari data tahun 1990, 1996 dan 2002 menunjukkan bahwa 50% jenis sayuran mengalami penurunan. Beberapa komoditas dataran tinggi seperti kentang, tomat, dan cabai merah mengalami peningkatan, masing-masing 0,5, 2,9, dan 1,6 % per tahun, sebaliknya komoditas sayuran kubis mengalami penurunan 0,2 % per tahun. Pada kawasan rawa konsumsi sayuran sangat erat hubungannya dengan kebiasaan dan adat masyarakat, seperti pada umumnya masyarakat Kalimantan mempunyai kebiasaan mengkonsumsi cabai dan tomat untuk masakan sehari-hari, khususnya pada hari besar dan acara besar keluarga seperti perkawinan.
Neraca Bahan Makanan tahun 2002 menunjukkan bahwa sayur-sayuran yang berada di Kalimantan Selatan hampir seluruhnya berasal dari produksi sendiri kecuali kentang, kubis, wortel, bawang daun, bawang merah dan bawang putih yang didatangkan (impor) dari propinsi lain. Sayur-sayuran yang produksinya terbesar adalah kacang panjang 3,863 ton, cabe 3,357 ton, dan terong 3,097 ton. Impor sayuran pada tahun 2001 mencapai 6.80 ton, yang terdiri dari bawang merah sebanyak 2.503 ton, bawang putih 1,181 ton, kentang 549 ton, kubis/ kol 1.149 ton, wortel 400 ton, cabe 1.002 ton, dan bawang daun 18 ton. Ketersediaan sayur-sayuran di Kalimantan Selatan  sebanyak 37.043 ton atau 11,65 kg per kapita per tahun. Sedangkan rata-rata ketersediaan per jenis sayuran adalah 0,69 kg. Hanya kacang panjang dan cabe yang lebih dari 1 kg per kapita per tahun, sedang sayuran lainnya masih < 1 kg per kapita per tahun (BPS Kalimantan Selatan, 2003).  Keadaan ini menunjukkan peluang usahatani sayuran masih besar, terutama untuk jenis-jenis sayuran yang masih diimpor tersebut yang sebagian besar dapat diusahakan di lahan rawa. Apalagi dengan meningkatnya jumlah penduduk dan pendapatan masyarakat maka permintaan terhadap sayuran dapat semakin meningkat sehingga diharapkan dengan meningkatkan jumlah konsumen dan pendapatan dapat merangsang pasar sayur dalam negeri (Rachman, 1997). Menurut  FAO selama tiga tahun  (1999-2001) tingkat konsumsi masyarakat terhadap sayur mengalami turun naik misalnya pada tahun 1999 sebesar 31,33 kg/kapita/tahun, pada tahun 2000 menjadi 29,39 kg/kapita/tahun, dan tahun 2001 menjadi 29,70 kg/kapita/tahun. 

2.3.  Aspek Produksi dan Agribisnis

            Potensi pengembangan sayuran masih terbuka luas dari segi lahan, teknologi budidaya, pasca panen dan pengolahan.  Terkait dengan sifat dan watak lahan rawa maka produksi  sayuran di lahan rawa sangat tergantung pada keberhasilan dalam pengelolaan air, tanah dan tanamannya sebagaimana diuraikan pada bab di atas.
            Luas lahan rawa yang berpotensi untuk pengembangan pertanian diperkirakan antara 9-10 juta hektar, sedangkan yang dibuka baru sekitar 5 juta hektar dan yang dapat dimanfaatkan baru sekitar 2 juta hektar.  Sementara kebanyakan lahan rawa dimanfaatkan untuk budidaya pertanian tanaman pangan (padi), dan secara terbatas untuk tanaman hortikultura. Secara keseluruhan tersedia lahan untuk pengembangan hortikultura/sayuran mencakup pekarangan 5,55 juta hektar, tegalan/huma 11,61 juta hektar, lahan tidak diusahakan 7,68 juta hektar, dan lahan untuk kayu-kayuan seluas 9,13 juta hektar (Ditjen Bina Produksi Hortikultura, 2001).  Hasil penelitian di lahan rawa pasang surut dan rawa lebak menunjukkan bahwa tanaman hortikultura di lahan gambut dapat dikembangkan dengan produktivitas cukup tinggi apabila dikelola dengan baik (Tabel 1).
Pangsa produksi hortikultura/sayuran di Indonesia pada tahun 2000 diperkirakan sekitar 8,2 milyun ton.  Sekitar  56% (4,6 milyun ton) merupakam hasil produksi komersial dan sisanya 44% (3,7 milyun ton) hasil  produksi  rakyat/tidak bersifat komersial. Produksi hortikultura/sayuran komersial bertambah kira-kira 7,0% per tahun dan hasil produksi keseluruhan diperkirakan .mencapai 9,0 milyun ton pada tahun 2005.  Permintaan hortikultura/sayuran tahunan  dari produksi komersial diperkirakan meningkat 7% masing-masing 2% dari akibat pertambahan jumlah penduduk, 3,5% dari akibat peningkatnya pendapatan dan 1,5% dari akibat urbanisasi perkotaan. Permintaan hortikultura/sayuran yang bertambah ini menuntut pentingnya penambahan produksi (Subhan, 2005).


Tabel 1.   Jenis dan varietas tanaman hortikultura yang cocok dibudidayakan di lahan gambut pada ekosistem rawa pasang surut dan rawa lebak

Jenis tanaman
Varietas
Hasil (t/ha)
Tomat
Intan, Permata, Berlian, Mirah, AV-22, Ratna
10-16
Cabai
Tanjung-1, Tanjung-2, Hot Chili, Barito, Bengkulu, Tampar, Keriting, Rawit Hijau dan Putih
9-18
Terong
Mustang, Kopek Ungu, Ungu Panjang, No. 4000
17-40
Kubis
KK Cross, KY Cross
20-32
Kacang panjang
Super King, Pontianak, KP-1, KP-2, Lebat
15-28
Buncis
Horti-1, Horti-2, Lebat, Prosessor, Farmer Early, Green Leaf
6-8
Timun
Saturnus, Mars, Pluto, Hercules, Venus
23-40
Sawi
Asveg#1, Sangihe, Talaud, Tosakan, Putih Jabung, Sawi Hijau, Sawi Huma, No. 82-157
10-20
Slada
New Grand Rapids
9-15
Bayam
Maestro, Giti Hijau dan Merah, Cimangkok, Kakap Hijau
10-12
Kangkung
LP-1, LP-2, Sutera
25-30
Lobak
Grand Long
50-85
Pare
Siam, Maya
17-18
Semangka
Agustina, New Dragon, Sugar Baby
10-25
Melon
Monami Red, Sky Rocket
14-18
Sumber : Alihamsyah et al. (2003) dan Hilman et al. (2003).

2. 4.   Kajian Aspek Biaya dan Pendapatan

Biaya dan pendapatan petani dalam budidaya hortikultura di lahan gambut sangat beragam, tergantung pada teknologi budidaya dan pengelolaan tanah, air dan tanamannya. Pemilihan komoditas untuk mendapatkan nilai pendapatan yang memadai perlu diarahkan pada multikomoditas atau diversifikasi usaha tani. Komoditas unggulan karena nilai ekonomis yang tinggi merupakan pilihan yang utama.  Pengembangan lahan gambut yang hanya menitik beratkan pada komoditas pangan (misalnya padi saja) tidak akan dapat meningkatkan kesejahteraan petani mengingat nilai tukar padi masih rendah sementara biaya usahatani meningkat terus. Diversifikasi dengan memasukan komoditas hortikultra dalam sistem usaha tani terpadu di lahan rawa memberi peluang tambahan pendpatan bagi petani.
Hortikultura, khususnya sayuran merupakan komoditas yang dapat diusahakan pada semua jenis tipologi lahan rawa, kecuali pada tipologi lahan rawa lebak dalam. Pola usahatani hortikultura  di lahan gambut  sangat beragam tergantung  dengan tipologi lahan dan tipe luapan pasang. Pada lahan gambut pasang surut tipe B, tomat dan cabai merupakan tanaman yang paling berpotensial setelah nenas.  Pada lahan rawa lebak dangkal cabai memperlihatkan efisiensi tertinggi (R/C = 3,70) dan lebih kompetitif dibandingkan dengan padi unggul.  Sedangkan pada lebak tengahan labu kuning paling efisien (R/C = 4,40) dan lebih kompetitif dibandingkan dengan sayuran lainnya terhadap padi unggul.  Pada lahan gambut bawang daun lebih efisien dibandingkan dengan sayuran lainnya (R/C = 3,36)  Usahatani sayuran di lahan gambut memberikan kontribusi yang tertinggi (83 %) terhadap total pendapatan petani pertahun dibandingkan dengan usahatani sayuran di lahan sulfat masam (0,34 %) dan lahan lebak dangkal (8,64 %) serta lebak tengahan (32,13 %) (Noorginayuwati dan Rina, 2006). 
Peluang perkembangan usahatani hortikultura  di lahan gambut  ini ke depan perlu mendapat perhatian sebagai  alternatif atau pengganti lahan subur di Jawa yang terus mengalami alih fungsi. Berdasar sifat dan watak dari lahan gambut secara umum, maka secara teknis peningkatan produktivitas lahan gambut  dapat ditempuh dengan melalui antara lain : (1) perbaikan pengelolaan  air, (2) perbaikan sifat kesuburan dan kimia tanah, (3) perbaikan sifat fisik dan daya dukung tanah, (4) perbaikan sistem budidaya, dan (5)  perbaikan pola tanam dan diversifikasi komoditas. Hasil-hasil penelitian berikut menunjukkan bahwa pengembangan pertanian di lahan rawa atau gambut dapat memberikan sumber pendapatan yang cukup baik khususnya bagi tanaman hortikultura (Tabel 2, 3 dan 4).

Tabel  2.      Analisis biaya diversifikasi usahatani padi dengan tanaman jeruk dan  cabai di lahan pasang surut, Barito Kuala, Kalsel. 2003

Komoditas
Biaya
(Rp./ha)
Pu enerimaan
(Rp./ha)
Keuntungan
(Rp./ha)
R/C ratio
Padi lokal
Jeruk (surjan)
Cabai (surjan)
856.000
1.162.000
810.000
2.910.000
10.070.00
1.500.000
2. 054.000
8.908.000
690.000
3,40
8,67
1,85
Jumlah
2.828.000
14.480.000
11.652.000
4,93
Padi unggul 2 x
Jeruk (surjan)
Cabai (surjan)
3.794.000
1.162.000
810.000
6.984.000
10.070.000
1.500.000
3.190.000
8.908.000
690.000
1,84
8,67
1,85
Jumlah
5.766.000
18.554.000
12.788.000
3,21
    Sumber : BALITTRA  (2004)

            Tanaman sayuran yang prospektif sangat tergantung pada permintaan pasar. Misalnya di Kalimantan Barat, sayuran seledri dan ku cai (sejenis bawang daun) menunjukkan paling menguntungkan. Tanaman seledri dan ku cai merupakan sayuran yang paling disukai oleh etnis Cina yang mayoritas di Kalimantan Barat (Tabel 3).  Di Kalimantan Tengah, cabai kecil (varietas Tiung) paling menguntungkan di tingkat petani, tetapi tanaman introduksi tomat lebih menguntungkan lagi, disusul bawang daun dan terung. Efisiensi usaha tani dilihat dari nilai R/C ratio tomat = 3,67,  bawang daun = 2,22 dan mentimun = 1,8 (Tabel 4).
Tabel 3.  Analisis biaya dan pendapatan usaha tani beberapa komoditas sayuran di lahan gambut Kalbar. 2006.
No
Komoditas
Penerimaan
(Rp)***)
Biaya
(Rp)
Keuntungan
(Rp)
R/C
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
Lidah buaya *)
Jagung manis *)
Kangkung **)
Bayam **)
Sawi **)
Kucai **)
Seledri **)
Bawang daun **)
46.240.000
4.245.000
150.000
224.965
112.482
180.000
400.000
450.000
28.826.000
3.441.000
102.357
112.483
56.241
109.928
141.071
133.821
17.414.000
804.000
47.643
112.482
56.241
70.071
258.928
316.179
1,604
1,230
1,460
1,990
2,000
1,630
2,835
3,360
Keterangan: *) dalam luasan 1 ha, **) dalam luasan 18 m2   ***) 1 US $ = Rp. 9.000
Sumber : Noorginayuwati et al, (2006)

Tabel 4.    Analisis biaya dan pendapatan usaha tani sayuran di lahan gambut Desa Petak Batuah, Kapuas, 2006.
Teknologi/ komoditas
Luas
(m²)
Hasil (kg)
Penerimaan (Rp)
Biaya
( Rp)
Keuntungan (Rp)
R/C
Teknologi Petani
a. Cabai kecil
b.  Pare
c.  Gambas

400
400
400

105
150
  75

1.150.000
   450.000
    225.000

405.000
198.000
 120.000

  645.000
  252.000
  105.000

2,59
2,27
1,87
Tek Introduksi
a. Tomat
b. Mentimun
c. Terong
d. Bawang Daun

400
400
400
400

982
620
274
332

2.700.500
1.395.000
   685.000
1.660.000

722.919
768.841
481.575
748.837

1.977.581
  626.159
  203.425
  911.163

3,73
1,81
1,42
2,22
   Sumber : Rina et al. (2008)





III.           BUDIDAYA TANAMAN HORTIKULTURA DI LAHAN GAMBUT DALAM PERSPEKTIF  PERUBAHAN IKLIM
Lahan gambut dikenal sebagai sumber karbon sehingga merupakan potensial sebagai emitor GRK. Misalnya dalam 25 tahun pemanfaatan untuk tanaman semusim  ternyata memberikan jumlah emisi bersih 40% lebih tinggi dibandingkan perkebunan. Laju emisi karbon dari lahan gambut dengan tanaman semusim dalam 25 tahun sekitar  2.050 t CO2.ha-1 (atau 82 t CO2.ha-1.tahun-1) dibandingkan dengan tanaman perkebunan sekitar 1.453 t CO2.ha-1 (atau 58 t CO2. ha-1.tahun-1). Emisi karbon tertinggi dari kegiatan pertanian tanaman semusim disumbang dari kebakaran (sistem tebas-bakar) sebesar hampir 70% dan selebihnya sebesar 30% disumbang dari perombakan bahan organik  (Tabel 5).
Tabel 5. Emisi bersih dari lahan gambut dalam berbagai kegiatan atau pemanfaatan
No
Kegiatan atau Pemanfaatan
Emisi/Rosot
(t CO2.ha-1)
Emisi Bersih
(t CO2.ha-1)
1
Pembukaan lahan/hutan :
Emisi dari biomassa > 10 cm
Emisi dari kebakaran

427
160

587
2
Perkebunan
Rosot (Pemendaman) karbon
Emisi dari perombakan

- 367**)
1.820**)


1.453 **)
3
Tanaman Semusim
Emisi dari kebakaran
Emisi dari perombakan

55*)
27*)

2.050**)
    *) per tahun; **) per 25 tahun
     Sumber : Melling et al. (2008)
Besarnya emisi GRK di lahan gambut mempunyai keberagaman. Data emisi yang ditunjukkan dari satu penulis atau sumber dengan sumber lain sering berbeda. Hal ini karena kondisi dan perlakuan atau pemanfaatan dan pengelolaan lahan yang berbeda. Menurut Maltby (1997) laju emisi dari pertanian tanaman pangan (tanaman semusim) berkisar antara 5-42 t C.ha-1.tahun-1 (1 ton C = 3,66 t CO2) sementara pada kondisi hutan alami menghasilkan emisi hanya sekitar 0,3-2,0 t C.ha-1.tahun-1
Gas rumah kaca dinitrooksida (N2O) dari lahan gambut dikenal cukup besar terutama dalam kondisi tumpat air (waterlogged) setelah pengeringan, dan meningkat karena adanya perombakan gambut.  Hasil penelitian Takakai et al (2004) menunjukkan bahwa emisi N2O tertinggi pada lahan budidaya, menyusul padang rumput, hutan alami, hutan regenerasi, dan paling rendah pada hutan bekas terbakar. Emisi N2O dari hutan pada tahun 2002-2003 menunjukkan tidak berbeda nyata antara hutan alami, hutan regenerasi dan hutan terbakar yang masing-masing mempunyai tingkat emisi 0,62 ± 0,11; 0,40 ± 0,32 dan 0,97 ± 0,65 kg N. ha-1. tahun -1, sementara emisi N2O dari padang rumput pada tahun 2002-2003 mencapai 7,10 ± 1,20 kg N. ha-1. tahun-1. Sedangkan emisi N2O dari lahan budidaya paling tinggi, tergantung pada jenis tanaman dan kondisi lahan antara 21 ± 5,4 (B) sampai dengan 131 ± 59 (A). Emisi N2O  tahun 2003-2004 jauh lebih tinggi hampir 2 kali lipat dari tahun 2002-2003 (Tabel 6).
Tabel 6.. Tingkat emisi N2O pada berbagai macam penggunaan lahan di lahan gambut, Kalimantan Tengah 2002-2003 dan 2003-2004
Pengunaan
Lahan
Emisi N2O (kg N.ha-1.tahun-1)
 Tahun  2002-2003
Tahun 2003-2004
Hutan alami
0,62 ± 0,11
4,4 ± 1,2
Hutan regenerasi
0,40 ± 0,32
4,0 ± 1,9
Hutan terbakar
0,97 ± 0,65
1,5 ± 0.7
Padang rumput
7,10 ± 1,20
23 ± 9,8
Lahan budidaya A *)
131 ± 59
259 ±44
Lahan budidaya B *)
21 ± 5,4
52 ± 8,2
Lahan budidaya C *)
83 ± 26
15136
 *) tanaman campuran sayuran, kacang panjang, jagung, dan ubi kayu.  
 Sumber :  Takakai et al. (2004)

Rangkaian penelitian menunjukkan bahwa emisi GRK pada lahan budidaya pertanian dan perkebunan pada lahan gambut  sangat beragam, tergantung pada sistem pengelolaan lahan dan air serta kesudahan reklamasi/pengatusan. Emisi bersih karbon pada tanaman semusim mencapai 2.050 t CO2. ha-1 selama 25 tahun atau 82 t CO2.ha-1 jauh lebih tinggi dibandingkan dengan tanaman perkebunan (Melling et al, 2008). Takakai et al. (2004) menunjukan bahwa tingkat emisi CO2, CH4 dan N2O pada hutan alami, hutan bekas terbakar dan lahan budidaya (meliputi tanaman semusim campuran antara sayuran, kacang panjang, jagung, dan ubi kayu) mempunyai perbedaan yang nyata (Gambar 5.7, 5.8 dan 5.9). Tingkat Global Warning Potential (GWP)  dari budidaya pertanian di lahan gambut menunjukan paling tinggi pada lahan tanaman A (Cropland A) dibandingkan dengan lahan tanaman B dan C (Gambar 1,2,3 dan 4).

Gambar 1. Emisi CO2  pada hutan gambut dan budidaya pertanian di  lahan gambut, Kalimantan Tengah (kg C. ha-1.th-1)
Gambar 2. Emisi CH4 pada hutan gambut dan budidaya pertanian di  lahan gambut, Kalimantan Tengah (kg C. ha-1.th-1)
Gambar 3. Emisi N2O pada hutan gambut dan budidaya pertanian di  lahan gambut, Kalimantan Tengah (kg N. ha-1.th-1)
Gambar  4.  Global Warming Potential (GWP) dari lahan budidaya pertanian di lahan gambut (Mg CO2 eq. ha-1. th-1)

Lahan gambut memiliki keberagaman yang merupakan salah satu keunikan dari ekosistem rawa. Keberhasilan usaha pertanian dan perkebunan pada lahan gambut, termasuk emisi GRK yang dihasilkan dari lahan gambut sangat dipengaruhi oleh berbagai sifat tanah gambut dan cara pengelolaan tanah dan air serta lingkungannya. Misalnya pada kondisi tergenangan (anaerob) maka emisi metan (CH4) meningkat, sebaliknya pada kondisi kering maka emisi metan turun. Besar emisi karbon yang dihasilkan lahan gambut juga dipengaruhi oleh jeluk muka air tanah. Makin dalam muka air tanah (dari 30 cm sampai 90 cm)  maka besar emisi CO2 semakin tinggi, tergantung pada jenis dan lingkungan gambut (Gambar 5.10). Menurut Hadi et al. (2007) tingkat emisi gas CH4 dan N2O dalam budidaya padi sawah dapat diturunkan antara lain dengan (1) pengairan berselang, (2) penggunaan varietas padi yang mempunyai eksudat rendah, (3) pematangan bahan organik dengan pengomposan, (4) pemberian inhibitor methanogenesis dan nitrifikasi, dan penerapan sistem sebar langsung.  Pilihan cara atau upaya mitigasi dalam mengatasi emisi gas CH4 dan N2O di atas sangat tergantung pada keadaan dan kemampuan masing-masing lokasi. Hasil penelitian Hadi et al (2007) menunjukan emisi CH4 dan N2O dipengaruhi oleh tipe luapan. Emisi CH4 tertinggi pada tipe luapan A disusul tipe luapan D masing-masing berturutan sebesar 9,95 dan 0,37 g C.m-2 per musim tanam (Tabel 7). Emisi CH4 berkorelasi positif dengan  kadar air tanah dan kerapatan lindak (bulk density) (Gambar 5 dan 6). Hal ini menunjukkan bahwa peranan pengelolaan air sangat penting sebagai bagian dalam mitigasi terhadap CH4.
Tabel 7. .Emisi total CH4 dan N2O, GWP, Hasil padi dan Indeks Emisi pada berbagai tipe luapan pada lahan gambut.
Tipe luapan
C organik (%)
Emisi (g C.m-2 per musim tanam)
GWP
(g C.ha-1. th-1)
Hasil
(t GKG.ha-1)
Indeks emisi
(g C/t GKG)
CH4
N2O
A
37,1
9,95
0,07
242,6
1,10
220
B
54,3
-0,59
0,10
19,6
1,91
10
C
31,8
-0,13
0,00
-7,8
1,84
-4
D
34,3
0,37
0,19
45,7
1,59
29
GWP = Global Warming Potential; GKG  = Gabah Kering Giling
Sumber : Hadil et al. (2007)


Gambar  5. Hubungan tingkat emisi CH4 dengan kadar air tanah (Hadi et al., 2007)
Gambar  6..  Hubungan tingkat emisi CH4 dengan kerapatan lindak (Hadi et al., 2007)
Menurut Radjagukguk (2010) emisi karbon dipengaruhi oleh tipe penggunaan lahan. Dari empat tipe penggunaan, emisi tertinggi didapati pada tanaman karet > kelapas sawit > lidah buaya > jagung  (Gambar 7). Menurut Radjagukguk (2010) lama penggunaan lahan juga mempengaruhi tingkat emisi CO2 yang dilepaskan. Misalnya hasil emisi CO2 pada periode Maret-April 2006 dari ubi jalar dan sayuran pada lahan gambut Kalampangan, Kalimantan Tengah yang telah dibudidayakan antara 1 dan 5 tahun masing-masing menghasilkan 0,407 g dan 0,691 g CO2/m2/jam dibandingkan dengan yang telah dibudidayakan 6 dan 10 tahun masing-masing menghasilkan 0,827 dan 0,976 CO2/m2/jam (Gambar 8 dan Tabel 8).
Gambar 7.. Hubungan emisi CO2 dengan tipe penggunaan lahan (Radjagukguk, 2010)
 Gambar 8.   Hubungan emisi CO2 dengan muka air tanah pada lahan gambut pada d berbagai tipe penggunaan/komoditas dan lama pengusahaan (Rumbang dalam Radjagukguk, 2010).
Tabel 8. Nilai emisi karbon pada lahan gambut dengan berbagai penggunaan/komoditas  dan muka air tanah

Perlakuan
Jenis komoditas
Kelapa sawit
Buah-buah
Nenas
Pola tanam
1 x  setahun
1 x setahun
2 x setahun
Umur tanaman
10 tahun
2 tahun
1 tahun
Muka air tanah (cm)
35-80
30-70
10-50
Emisi CO2 (mg C m-2 jam-1)
150-190
100-120
120-150
   Sumber : Rumbang dalam Radjagukguk (2010)

IV.           KESIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN
Dari uraian di atas dapat diambil kesimpulan dan diperlukan beberapa implikasi kebijakan bahwa :
  1. Peluang pengembangan dan agribisnis hortikulutra (sayur dan buah-buahan) di lahan gambut terbuka luas baik dari segi aspek lahan dan lingkungan serta teknologi produksi.  Permintaan sayuran terus meningkat sehingga peningkatan produksi diperlukan dalam rangka memenuhi kebutuhan dalam negeri dan menekan semakin gencarnya impor.
  2. Peningkatan produksi dan pengembangan agrbisnis hortikulutra di lahan rawa memerlukan perangkat kelembagaan pemasaran dan keuangan yang sementara ini masih belum tersedia. Penguatan kelembagaan di tingkat petani diperlukan untuk meningkatkan daya tawar dan pembagian keuntungan yang selama ini lebih banyak jatuh ke tangan pedagang.  Struktur agribisnis hortikultura (termasuk sayuran)  perlu dikembagkan ke arah terpadu (integrated) sehingga lebih efisien dan menguntungkan
  3. Peluang perkembangan usaha tani hortikultura di lahan gambut perlu mendapat perhatian sebagai  alternatif  untuk mengimbangi kemerosotan yang di alami Pulau Jawa yang selama ini sebagai pemasok utama sayuran secara nasional.
  4. Dalam upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim maka pengembangan budidaya dan pengelolaan tanah dan air untuk tanaman hortikultura di lahan gambut diperlukan penelitian untuk mendapatkan inovasi teknologi budidaya dengan tingkat emisi rendah


DAFTAR  PUSTAKA
Adinugroho, W.C., I.N.N. Suryadiputra, B.H. Saharja, dan l. Siboro, 2005. Panduan Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Gambut. Wetland Int. – Indo. Prog. & GEC. Bogor, Indonesia. 162 hlm.
Agus, F dan I.M.G. Subiksa. 2008.  Lahan Gambut : potensi untuk pertanian dan aspek lingkungan. Balai Penelitian Tanah dan World Agroforestry Centre (ICRAF). Bogor-Indonesia. 36 hlm.
Alihamsyah, T.  M. Sarwani, A.Jumberi,  I. Ar-Riza, I. Noor, dan H. Sutikno 2003. Lahan Rawa Pasang Surut : Pendukung Ketahanan Pangan dan Sumber Pertumbuhan Agribisnis. Balittra. Banjarbaru. 53 halaman.
Alwi, M, Y. Lestari, dan M. Noor, 2006.  Teknologi budidaya sayuran di lahan gambut. Dalam M. Noor, I. Noor dan  SS. Antarlina (eds). Budidaya  Sayuran  di Lahan Rawa : Teknologi Budidaya dan Peluang Agribisnis.  Monograf Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa. Banjarbaru.
BALITTRA. 2004. Laporan Tahunan Penelitian Pertanian Lahan Rawa Tahun 2003. Penyunting Trip Alihamsyah dan Izzuddin Noor. Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa. Banjarbaru.
Hadi, A., Z.T. Mriyana, dan P. Londong. 2007. Pengelolaan penggunaan berdasarakan tipologi luapan pasang surut sebaai opsi mitigasi emisi gas CH4 dan N2O, Hlm 301-316. Dalam Mukhlis et al. (eds). Pros. Seminar Nasional Pertanian Lahan Rawa, Kuala Kapuas,3-4 Agustus 2007. Badan Litbang dan Pemkab Kapuas Kalimantan Tengah.
Hilman, Y, A. Muharam dan A. Dimyati. 2003.  Teknologi agro-produksi dalam pengelolaan lahan gambut. Makalah disajikan pada Lokakarya Nasional Pertanian Lahan Gambut, Pontianak, 15-16 Desember 2003.
Irawan, B. 2003. Agribisnis hortikultura: peluang dan tantangan dalam era globalisasi. Puslitbang Tanah dan Agroklimat. Badan Litbang Pertanian, Deptan. Bogor.
Lestari, Y., M. Alwi dan M. Noor, Prospek dan kendala budidaya sayuran di lahan gambut: Hasil pengalaman dan penelitian di Kalimantan. Makalah disajikan pada Seminar Nasional Ketahanan Pangan : Membangunan Ketahanan Pangan Berbasis Sumberdaya Lokal, Palangka Raya, 03-04  November 2006.  BPTP Kalimantan Tengah. Palangka Raya 
Melling, L. R. Hatano, K.J. Goh. 2005. Soil CO2 flux from three ecosystem in tropical peatland of Serawak, Malaysia. Tellus 57B: 1-11. UK
Noorginayuwati, M. Noor, dan M. Djamhuri. 1996. identifikasi sebab dan akibat kebakaran pada lahan usaha tani di lahan gambut Kalsel dan Kalteng. Makalah Seminar Nasional Masyarakat Konservasi Tanah dan Air Indonesia (MKTI), Fakultas Pertanian Univ. Brawijaya, Malang (Jatim), 6 Desember 1996.
Noorginayuwati dan Rina. 2006.  Sistem usahatani berbasis sayuran di lahan rawa. Dalam M. Noor, I. Noor dan  SS. Antarlina (eds). Budidaya  Sayuran  di Lahan Rawa : Teknologi Budidaya dan Peluang Agribisnis.  Monograf Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa. Banjarbaru. 
Noorginayuwati,  A. Rafieq, M. Noor, dan A. Jumberi. 2007. Kearifan lokal dalam pemanfaatan lahan gambut untuk pertanian di Kalimantan. Hlm 11-27. Dalam Mukhlis et al (eds). Kearifan Lokal Pertanian di Lahan Rawa. Balai Besar Litbang SDLP- BALITTRA. Bogor/Banjarbaru. 
Noor, M. 2001. Pertanian Lahan Gambut. Potensi dan Kendala. Kanisius. Yogyakarta. 174  hlm.
Noor, M., A. Haerani, Muhammad, S. Nurzakiah, A. Fahmi.  2009. Pengembangan teknologi pemupukan berdasarkan dinamika hara pada tanaman padi IP 300 di lahan rawa pasang surut. Laporan Hasil Penelitian SINTA 2009. Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa. Banjarbaru (Unpublist
Noor, M.,  Mukhlis, dan Achmadi. 2006.  Pengelolaan  sumber daya lahan rawa dalam  perspektif pengembangan inovasi teknologi pertanian.  Makalah disajikan pada Seminar Nasional Sumber Daya Lahan dengan tema :  Staretegi Pemanfaatan dan Pengelolaan Sumberdaya Lahan Pertanian Berbasis Iptek, 14-15 September 2006 di Bogor
Radjagukguk, 2010.Efek pemanfaatan lahan gambut terhdap pemanasan global. Makalah Seminar Nasional Revitalsiasi Pembangunan Lingkungan Pertanian dalam Menghadapi Global Warming, Banjarbaru. 11 Maret 2010.
Rina, Y., I. Ar-Riza, dan M. Noor., 2008. Profil sosial ekonomi dan kelembagaan petani di lahan bukaan baru Kasus Desa Petak Batuah, Dadahup A2, Kalteng. Disajikan pada Seminar Nasional Padi, 23-24 Juli 2008 di Sukamandi. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi. Badan Litbang Pertanian, Deptan.
Rachman, HPS. 1997. Aspek permintaan, penawaran dan tata niaga hortikultura di Indonesia. Forum Penelitian Agroekonomi Vol 15:1 dan 2. Puslitbang Sosial Ekonomi Pertanian. Badan Litbang pertanian, Deptan. Bogor.
Saptana, M. Siregar, S. Wahyubi, S.K. Dermoredjo, E. Ariningsih, dan V. Darwis. 2005. Pemantapan Model Pengembangan Kawasan Agribisnis Sayuran Sumatera (KASS). Puslitbang Sosial Ekonomi Pertanian. Badan Litbang Pertanian, Deptan. Bogor. 232 hlm.
Simatupang, P. 1995. Industrialisasi pertanian sebagai strategi agribisnis dan pembangaun pertanian dalam era globalisasi. Orasi Pengukuhan Ahli Peneliti Utama. Puslitbang Sosial Ekonomi Pertanian. Badan Litbang Pertanian, Deptan. Bogor.
Subhan. 2005.  Teknologi inovatif tanaman sayuran menunjang keterpaduan usaha pertanian.  Makalah Seminar Nasional Pertanian Lahan Kering.  Banjarbaru, Kalimantan Selatan.  6 Desember 2005.
Takakai, F., Y. Toma, U. Darung, K. Karamuchi, S. Dohong, S.H. Limin, dan R. Hatano. 2006b. Greenhouse gas (CO2, CH4, N2O) emission from agricultural lands on tropical peatland in Central Kalimantan, Indonesia. Int. Worksh on Monsoon Asia Agric. Greenhouse Gas Emission (MASE), March, 7-9, 2006. Tsukuba, Japan.




3 komentar:

bpk, mkb ilmux.izin copas pak

KISAH NYATA..............
Ass.Saya ir Sugianto.Dari Kota Timor Leste Ingin Berbagi Cerita
dulunya saya pengusaha sukses harta banyak dan kedudukan tinggi tapi semenjak
saya ditipu oleh teman hampir semua aset saya habis,
saya sempat putus asa hampir bunuh diri,tapi saya buka
internet dan menemukan nomor Ki Kanjeng saya beranikan diri untuk menghubungi beliau,saya di kasih solusi,
awalnya saya ragu dan tidak percaya,tapi saya coba ikut ritual dari Ki Kanjeng alhamdulillah sekarang saya dapat modal dan mulai merintis kembali usaha saya,
sekarang saya bisa bayar hutang2 saya di bank Mandiri dan BNI,terimah kasih Ki,mau seperti saya silahkan hub Ki
Kanjeng di nmr 085320279333 Kiyai Kanjeng,ini nyata demi Allah kalau saya tidak bohong,indahnya berbagi,assalamu alaikum.

KEMARIN SAYA TEMUKAN TULISAN DIBAWAH INI SYA COBA HUBUNGI TERNYATA BETUL,
BELIAU SUDAH MEMBUKTIKAN KESAYA !!!

((((((((((((DANA GHAIB)))))))))))))))))

Pesugihan Instant 10 MILYAR
Mulai bulan ini (Oktober 2015) Kami dari padepokan mengadakan program pesugihan Instant tanpa tumbal, serta tanpa resiko. Program ini kami khususkan bagi para pasien yang membutuhan modal usaha yang cukup besar, Hutang yang menumpuk (diatas 1 Milyar), Adapun ketentuan mengikuti program ini adalah sebagai berikut :

Mempunyai Hutang diatas 1 Milyar
Ingin membuka usaha dengan Modal diatas 1 Milyar
dll

Syarat :

Usia Minimal 21 Tahun
Berani Ritual (apabila tidak berani, maka bisa diwakilkan kami dan tim)
Belum pernah melakukan perjanjian pesugihan ditempat lain
Suci lahir dan batin (wanita tidak boleh mengikuti program ini pada saat datang bulan)
Harus memiliki Kamar Kosong di rumah anda

Proses :

Proses ritual selama 2 hari 2 malam di dalam gua
Harus siap mental lahir dan batin
Sanggup Puasa 2 hari 2 malam ( ngebleng)
Pada malam hari tidak boleh tidur

Biaya ritual Sebesar 10 Juta dengan rincian sebagai berikut :

Pengganti tumbal Kambing kendit : 5jt
Ayam cemani : 2jt
Minyak Songolangit : 2jt
bunga, candu, kemenyan, nasi tumpeng, kain kafan dll Sebesar : 1jt

Prosedur Daftar Ritual ini :

Kirim Foto anda
Kirim Data sesuai KTP

Format : Nama, Alamat, Umur, Nama ibu Kandung, Weton (Hari Lahir), PESUGIHAN 10 MILYAR

Kirim ke nomor ini : 085320279333
SMS Anda akan Kami balas secepatnya

Maaf Program ini TERBATAS . 20 orang saja

dasar setan, niatnya cuma mengakali orang yg sedang kesusahan

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites