Rawa

sungai Antasan Kuin, Kalimantan Selatan

Budidaya Kelapa Sawit Di Lahan Gambut

Pengembangan kelapa sawit sangat pesat termasuk di lahan gambut yang menjadi primadona

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Senin, 31 Desember 2012

Buah Eksotik Lahan Rawa





STATUS, POTENSI DAN PENGEMBANGAN BUAH EKSOTIK

DI LAHAN RAWA


Muhammad Noor,  Isdijanto Ar-Riza,  dan Achmadi Jumberi,


PENDAHULUAN


Indonesia selain mempunyai kekayaan sumber daya alam yang luas juga sumber daya hayati yang besar, termasuk buah-buah eksotik. Eksotik mengandung arti aneh dan luar biasa (Echols dan Shadily, 2000). Dalam pengertian khusus buah eksotik diartikan sebagai buah-buahan yang mempunyai daya tarik tersendiri baik karena bentuk, warna, rasa yang khas, aneh, indah,  maupun kandungan khasiat dan manfaatnya yang luar biasa bagi kesehatan dan gizi ataupun kebugaran.
Potensi hutan topika yang sangat luas dengan segala aneka ragam kekayaan hayatinya termasuk diantaranya buah eksotik belum banyak dikenal dan sebagian besar dimanfaatkan hanya sebagai buah meja (fresh). Chairuddin (1989) dan Silvius et al. (1997) melaporkan bahwa keanekaragaman hayati di lahan rawa cukup tinggi dan kompleks serta mempunyai sifat unggul, tetapi belum termanfaatkan secara optimal. Namun potensi keka­yaan keberagaman plasma nutfah dari buah-buah tropika ini terus berkurang akibat pembukaan hutan, karena pada komposisi produk hutan, ternyata dari 23% dari tanaman hutan adalah jenis pohon buah-buahan (Anonimous, 2002;  Nanang and  Inoue, 2000).
Tulisan ini dimaksudkan untuk mengemukakan status, potensi buah eksotik di lahan rawa maupun pengembangannya.


STATUS DAN POTENSI BUAH-BUAH EKSOTIK LAHAN RAWA

Indonesia sebagai kawasan tropik mempunyai keberagaman sumber daya hayati dan keanekaragaman yang cukup besar. Banyak contoh buah yang mempunyai nilai dan sifat eksotik. Misalnya  buah naga (dragon fruit) yang merupakan buah dari sejenis kaktus berbentuk mirip nanas dengan sisik berwarna merah menarik perhatian, mempunai rasa yang aneh, dan dilaporkan bekhasiat luar biasa untuk kesehatan pria.
Buah-buahan tropika utamanya di lahan rawa Kalimantan dapat dikegorikan sebagai buah eksotis, tetapi potensinya masih belum termanfaatkan dengan baik. Buah eksotik lahan rawa seperti mundar (Gapcinia forbesii ) mempunyai warna buah yang merah menarik, struktur buah mirip manggis, kulit lunak seperti tomat, tetapi cita rasanya agak masam, merupakan sumber vitamin C yang cukup tinggi. Selain itu, kualitas kayunya sangat baik untuk bahan meabel, sehingga pohon buah ini sering diburu untuk diambil kayunya (Rohliansyah, 2001).  Jenis mangga rawa seperti kasturi (Mangifera casturi),  mangga hambuku (Mangifera spp), dan kueni (Mangifera odorata) mempunyai sifat unggul tahan genangan harian dan kemasaman tanah yang cukup ekstrim (pH 4).  Jenis mangga rawa ini dapat dijadikan sebagai batang bawah untuk pengembangan jenis mangga di lahan rawa lebak. Jenis lainnya berupa durian kuning seperti lai dan pampakin (Durio spp) mempunyai ciri warna daging buahnya kuning atau kuning kemerahan, tanpa bau menyengat dan jarang terserang hama penggerek di daging buahnya. Durian merah dari Malinau, Kalimantan Timur dengan warna daging buah merah tua sangat menarik, tanpa bau menyengat, hanya saja rasanya hambar (tawar) sehingga cocok dikembangkan sebagai bahan plasma nutfah durian untuk pengembangan durian tanpa aroma dan tahan penggerek batang.  Buah mentega dan ramania masih belum digali potensinya kecuali sebagai buah meja atau sebagai penghasil jus.  Pada hal mempunyai potensi sebagai tumbuhan obat karena kemungkinan kandungan vitaminnya. Rambutan liar seperti siwau  (Nephelium) dan maritam (Nephelium ramboutanake leenh), gitaan (Willuqhbeia firma BI) dan tampirik (Leuconotis corpidae), durian lahong (Durio spp), kopuan (Arthocarpus spp), pitanak (Nephelium spp), balangkasuwa (Lepisanthes alata (BL) Leenh forma), mangga hambuku (Mangifera spp) dan putaran (Mangifera spp) termasuk buah-buah langka yang perlu segera diselamatkan dan digali untuk dikenali  potensinya.
Tanaman buah di kawasan lahan rawa dan hutan tropis pada umumnya mempunyai sistem perakaran yang kuat, toleran terhadap kondisi tanah masam, cekaman air, hama dan penyakit tertentu seperti cendawan patogen Phytophthora, tetapi produktivitas dan kualitas hasilnya masih relatif rendah. Hasil eksplorasi terhadap buah-buah eksotik yang dilaksanakan oleh Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa menunjukkan potensi yang cukup besar dari lahan rawa (Tabel 1). 
Dalam perdagangan hasil-hasil pertanian, buah-buahan pada saat ini belum memberikan kontribusi yang nyata terhadap pendapatan petani dan masyarakat. Selain itu tingkat konsumsi buah-buahan masyarakat masih relatif rendah tercermin dari pengeluaran untuk buah-buahan hanya sebesar 1,7 %  di pedesaan dan 3,5 % di perkotaan (Hasibuan, 2000). Berdasarkan  tingkat kebutuhan konsumsi buah menurut Badan Pangan Dunia (FAO) 60kg/kapita/tahun, maka konsumsi buah saat ini masih belum terpenuhi oleh produksi dalam negeri. Menurut Amin et al. (2002) dan Soekartawi. (2000), sebenarnya permintaan buah ada kecenderungan meningkat  cukup tinggi sebesar 6,1% , dan pe­luang ekspor tinggi, tetapi yang terjadi justru  impor yang lebih besar.
Mengacu pada kondisi tersebut berdasarkan permintaan pasar dan potensi sumberdaya yang dimiliki, agribisnis buah-buahan sebenarnya merupakan salah satu sektor yang sangat strategis, sehingga peluang komersialisasi khususnya  buah tropika, termasuk punya keunggulan seperti buah eksotis perlu ditingkatkan dan dikembangkan.
Selain itu, kebanyakan buah-buahan eksotik dipasarkan dalam bentuk segar untuk dikonsumsi langsung sebagai buah meja. Belum banyak pengusaha yang tertarik untuk mencoba dalam usaha pengemas dan pengolahan buah-buah eksotik ini. Pada hal peluang bisnis dari buah-buah eksotik ini tidak kalah dengan buah umum yang ada sekarang yang justru sudah masuk jauh ke desa-desa. Dalam hal ini, peran pemerintah daerah dan pusat dalam mendorong pengembangan buah-buah eksotik ini sangat diperlukan.


PENGEMBANGAN BUAH EKSOTIK DI LAHAN RAWA

Tanaman buah eksotis tumbuh di alam secara liar sepertinya telah terpola pada wilayah-wilayah tertentu dan tidak ditemukan tumbuh disembarang tempat di lahan rawa. Wilayah lahan rawa adalah wilayah yang sistem hidrologinya sangat dipengaruhi oleh keberadaan sungai-sungai besar. Pada sistem daerah aliran sungai (DAS)  tersebut terdapat kawasan pegunungan pada bagian atasnya (mountainous hinterland) dengan discharge yang besar dan musiman. Ketika discharge ini mencapai kawasan dataran pantai (coastal plain), menyebabkan fluktuasi yang besar dalam ketinggian muka air, akibatnya dapat membanjiri (inundating) kawasan ribuan kilometer. Pada kawasan tersebut dapat dikelompokkan menjadi  4 (empat) zone yaitu: (1) zone river-bed, (2) zone tadah hujan, (3) zone danau, dan (4) zone pasang surut. 
Menurut Moorman and Bremen (1978), pembagian zone tersebut berdasarkan kemungkinan sumber airnya, yaitu: (1) pluvial lands, kawasan yang sumber airnya dari curah hujan, hampir setara dengan lebak dangkal, (2) phreatic lands, wilayah yang  sumber airnya tidak hanya dari curah hujan tetapi juga air bawah tanah yang agak dangkal, eqivalen dengan lebak tengahan,(3) fluxial lands,  tergolong lebak dalam dimana wilayah ini selalu dalam posisi landscape yang paling rendah sehingga selalu tergenang hampir sepanjang tahun. Keadaan hidrologi kawasan rawa lebak  menyebabkan tumbuh berkembangnya tanaman yang khas, seperti tanaman buah-buahan eksotis. Moorman and Bremen (1978) menyebut  kawasan phreatic, adalah kawasan yang pengairannya berasal tidak hanya dari air hujan tetapi juga dari air bawah tanah.  Kawasan seperti ini secara keseluruhan termasuk ke dalam kawasan rawa karena masih dipengaruhi secara tidak langsung oleh kawasan yang selalu tergenang (fluxial) sebagai penyuplai air melalui kapiler dan  pergerakan air tanah.  Kondisi  tersebut dapat mendukung pertumbuhan hutan yang secara timbal balik akan berfungsi sebagai pelindung bagi tumbuhnya tanaman buah-buahan tersebut.  Oleh karena itu keberadaan hutan harus tetap lestari, agar tanaman buah yang khas tersebut tidak punah. Ar-Riza et al. (2003), melaporkan bahwa di alam liar nampaknya terdapat pola penyebaran tumbuhnya tanaman buah-buah termasuk buah yang tergolong eksotis, sehingga tanaman buah eksotis tidak tumbuh disembarang wilayah. Namun demikian belum diketahui kondisi pertumbuhan tanaman dan buahnya jika tanaman tersebut di tanam secara ek-situ pada karakter tanah dan lingkungan yang berbeda.
Pada kawasan lahan rawa sedikitnya terdapat 3 (tiga) macam buah eksotik tropika yang dapat patut dikembangkan yaitu (1) manggis besar, (2) durian, dan (3) srikaya besar. Pengusahaan atau budidaya buha eksotik ini dapat dipilah dalam 3 (tiga) tipe usaha, yaitu (1) buah-buah tersebut tumbuh sebagai buah hutan, tanpa dibudidayakan dengan baik sehingga ada kecenderungan akan punah, karena tumbuhan ini masih berasosiasi dengan hutan atau bekas hutan, (2) buah-buah tersebut sudah dibudidayakan, tetapi masih secara tradisional, dan (3) buah-buah tersebut sudah dibudidayakan dan mulai dikembangkan secara luas dan modern.   Tipe usaha (1) masih luas, namun seiring dengan pembabatan/pembalakan hutan maka buah-buah eksotik  semakin menurun jumlah dan kualitasnya. 
Pengembangan buah-buah eksotik ini dapat diarahkan pada pembentukan kebun insitu dan  eksitu.  Kebun insitu dimaksudkan pada wilayah dimana berkembang buah ekostik ini diberikan perlindungan sebagai wilayah konservasi atau cagar alam. Kebun eksitu dimaksudkan penngembangan buah-buah eksotik tersebut dilakukan pada wilayah agroekosistem yang serupa atau diluar dari wilayah tersebut dengan sedikit rekayasa lahan dan lingkungan.  Peran pemerintah daerah untuk mendorong adanya wilayah konservasi insitu ataupun eksitu   dalam rangka pelestarian dan pengembangan buah-buah eksotik ini yang sekarang sudah mulai langka dan punah.

   
PENUTUP

Buah-buahan tropika utamanya di lahan rawa Kalimantan dapat dikegorikan sebagai buah eksotis,  tetapi potensinya masih belum dimanfaatkan dengan baik.  Buah-buah eksotik di lahan rawa selain sebagai buah meja sehari-hari juga mempunyai khasiat bagi kesehatan dan gizi bahkan bermanfaat sebagai biofarmaka (obat).
Tanaman buah eksotik dikenal tahan dengan kondisi rawa antara lain tahan genangan, kemasaman tinggi,  adaptif terhadap kelarutan sneyawa toksis seperti Al, Fe, H2S, CO2, dan senyawa-senyawa organik dan juga tahan terhadap beberapa hama penggerek seperti pada jenis mangga rawa dapat digunakan sebagai batang bawah untuk memperbaiki genetik dari jenis-jenis mangga introduksi.
Tanaman buah eksotis tumbuh di alam secara liar sepertinya telah terpola pada wilayah-wilayah tertentu dan tidak ditemukan tumbuh disembarang tempat di lahan rawa oleh karena itu dalam rangka pelestarian jenis-jenis eksotik dan langka ini perlu konservasi eksitu dalam bentuk kebun buah-buahan yang dapat difasilitasi oleh pemerintah daerah.


DAFTAR PUSTAKA

Anonimous. 2002. Genetic resource and conservation. Durio-A.Bibiographic Review. http:// www.ipgri.cgiar.org.region/expo/publication/durio.htm. January 29, 2003.

Chairuddin, Gt. 1989.  Keberadaan dan konversi lahan basah Kalimantan Selatan:  Peranannya sebagai “Feeding Ground” dan Keanekaan Jenis Ikan.  Workshop on Conservation of Sungai Negara Wetlands, Barito Basin, South Kalimantan.  KPSL Unlam, Banjarbaru, 6-8 Maret 1989.

D. Djatmiadi, A. Hasyim, K. Mukminin, dan A. Yasir. 2002. Laporan Hasil Penelitian Tahun 2002, Balai Penelitian Tanaman Buah Solok: Distribusi geografis hama penggerek batang, ranting dan buah durian di Sumatera Barat dan Bangka Belitung. Balitbu Solok. 2002.

Hasibuan, N. 2000. Kemiskinan struktural di Indonesia: Menembus ke Lapisan Bawah. http://202.159.18.43/jsi/71nriman.htm.  18 Januari 2003.            
                
Nanang, M and M. Inoue.2000.  Local forest management in Indonesia:   A Contradiction Between National Forest Policy and Reality. International Review for Environmental Strategies.Vol.1, No.1, pp. 175 – 191, 2000. Institute for Global Environmental Strategies All rights reserved. 

Purnomo, S., Edison, Suharto dan Marsono. 2001. Naskah pelepasan varietas unggul baru nasional Durian TAKADA-01 dan JEBUS PETALING-06. Balai Penelitian Tanaman Buah, IP2TP Bangka dan Badan Benih Nasional. 38 halaman.

Rohliansyah, P. 2001. Mengenal buah-buahan Kalimantan. Adi Cita Karya Nusa. 116 p.

Silvius, M.J., A.P.J.M. Steerman, E. T. Berczy, E. Djuhara and A.W. Taufik.  1987.  The Indonesian Wetland Inventory, A  Preliminary Compilation of Existing Information on Wetlands of Indonesia. PHPA, AWB/Interwader, Edwin, Bogor.

Soekartawi. 2000. Peran sektor pertanian dalam perekonomian Indonesia. Universitas Brawijaya. Malang. http://202.159.18.43/jsi/4soeka.htm,  20 Januari 2003.
____________

Keterangan : Tulisan ini bagian dari Buku Monograf  Keanekaragaman Flora dan Buah-Buah Eksotik Lahan Rawa. 2007 Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa. Banjarbaru

Pengembangan Sayuran di Lahan Rawa










PERSPEKTIF PENGEMBANGAN SAYURAN DI LAHAN RAWA

Muhammad Noor, Heru Sutikno  dan Achmadi Jumberi

PENDAHULUAN

Pengembangan komoditas hortikultura, termasuk sayuran secara nasional mengalami peningkatan sejalan dengan  kemajuan pengetahuan dan kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan dan gizi. Kemampuan daya beli dan gaya hidup  masyarakat, khususnya di perkotaan secara tidak langsung mendorong permintaan akan komoditas sayuran yang semakin meningkat. Neraca perdagangan komoditas hortikultura atau sayuran ini baik domestik, regional maupun global menunjukkan dinamika yang cukup tinggi,  tergantung pada banyak faktor antara lain musim dan situasi pasar.
Produksi hortikultura nasional berdasarkan data statistik yang terdiri atas sayuran, buah-buahan dan tanaman hias dalam periode 1977-1999 masing-masing mencapai 7,67 juta ton, 7,65 juta ton, dan 1,12 juta ton.  Total volume ekspor ke tiga jenis hortikultura di atas masing-masing mencapai 101,73 ribu ton sayuran, 111,34 ribu ton buah dan 576,64 ton tanaman hias dengan nilai keseluruhan sekitar US $ 90,045 juta. Tetapi dalam kesempatan yang sama kita juga mengimpor komoditas hortikultura yang nilainya lebih tinggi mencapai sekitar US $ 157,22 juta.  Di Kawasan Asia dibandingkan dengan negara Cina, Thailand, dan Malaysia, kontribusi  Indonesia dalam perdagangan global  untuk komoditas hortikultura  masih sangat rendah. Sasaran produksi hortikultura tahun 2007 ditargetkan rata-rata mencapai 3-5% (Tabel 1).
Sayuran merupakan komoditas pertanian yang dipandang penting sebagai sumber pertumbuhan produksi baru. Peran penting dari komoditas ini antara lain (1) sebagai sumber pendapatan bagi petani dan buruh tani, (2) sebagai sumber gizi dan mineral, dan vitamin, dan (3) sebagai sumber devisi negara non migas. Namun demikian struktur agribisnis hortikultura (termasuk sayuran)  saat ini masih tergolong dispersal atau tersekat-sekat (Simatupang 1995; Irawan, 2003). Dengan kata lain  tidak ada keterkaitan fungsional antara kegiatan satu dengan lainnya karena masing-masing kegiatan agribisnis mengambil keputusan sendiri-sendiri. Artinya masing-masing kegiatan seperti pengadaan sarana produksi, kegiatan produksi, pengolahan hasil dan pemsaranan serta kegiatan jasa penunjang lainnya dilakukan pelaku agribinis yang berbeda dan tidak saling terintegrasi.
Pemasalahan dan kendala yang dihadapi pengembangan komoditas hortikultura - mengacu pada sentra-sentra produksi antara lain adalah : (1) pola usaha masih skala kecil dan tersebar – tidak adanya sistem perwilayahan pengembangan dan sistem usaha tani bersifat sporadis, (2) lemahnya permodalan petani – kegiatan budidaya, pasca panen, dan distribusi produk tergolong padat modal dan siklus perputaran modal berjalan cepat, (3) rendahnya penguasaan teknologi dari pembibitan, pembudidayaan,  penanganan panen dan pasca panen – sehingga produk dan kualitas hasil belum mencapai standar baku, (4)  belum terjalinnya keserasian hubungan antara tingkat produksi pada daerah sentra produksi dengan tingkat permintaan di pusat-pusat konsumsi, (5) belum terbentuknya stabilitas harga – harga saat panen rendah dan penanganan pasca panen belum terlaksana dengan baik, (6) pemasaran yang belum efisien, bagian keuntungan yang diterima petani relatif rendah, dan adanya rantai tata niaga yang cukup panjang,  (7) kebijakan dan strategi pemerintah yang disinsentif, dan (8) kebijakan pemerintah daerah yang cenderung memproduksi berbagai komoditas sayuran untuk tujuan swasembada atau pemenuhan daerah lain yang kurang menguntungkan dari segi pembangunan ekonomi wilayah (Saptana et al., 2005).
Uraian berikut mengemukakan tentang perspektif pengembangan sayuran secara umum dan khususnya di lahan rawa berdasarkan pada  kajian aspek-aspek lahan dan lingkungan, permintaan, produksi dan agribisnis, biaya dan pendapatan petani.

Tabel 1. Sasaran produksi tanaman hortikultura utama tahun 2007

No
Komoditas
Sasaran (x 1.000 ton)
Persen Pertumbuhan
2006
2007
I
Buah-buahan



1
2
3
4
5
6
7
Pisang
Mangga
Jeruk
Durian
Pepaya
Nanas
Alpokat
4.856,9
1,794,8
1.676,3
890,5
704,5
780,6
317,6
5.225,0
1.925,6
1.735,5
967,6
747,6
825,7
339,8
7.58
7,29
3,53
8,66
6,13
5,78
6,97
II
Sayuran



1
2
3
4
5
6
Kentang
Cabai
Bawang merah
Kubis
Tomat
Wortel
1.089,0
1.134,4
880,1
1.454,0
765,3
389,7
1.130,6
1.168,1
948,7
1.507,5
801,9
406,5
3.81
2,97
7,78
3,68
4,78
4,31
Sumber : Renstra Deptan 2005-2009 (Biro Perencanaan Deptan, 2006).





PERSPEKTIF PENGEMBANGAN SAYURAN DI LAHAN RAWA

1.   Kajian Aspek Lahan dan Lingkungan
          Lahan rawa dicirikan oleh genangan karena pengaruh gerakan pasang surut pada rawa pasang surut dan genangan akibat pengaruh curah hujan dan banjir kiriman dari daerah terestarial  khususnya pada rawa lebak.  Oleh karena itu maka pemanfaatan lahan rawa untuk pengembangan sayuran memerlukan penataan lahan dan pengelolaan air. Penataan lahan dengan model surjan memberikan peluang bagi pengembangan sayuran di lahan rawa.  Bentuk dan ukuran surjan disesuaikan dengan sifat-sifat tanah fisik lingkungan seperti tipe luapan, tipologi lahan dan tinggi genangan pada lahan rawa lebak serta kemampuan petani. Pembuatan surjan dapat secara bertahap, khususnya apabila dimanfaatkan juga untuk tanaman keras atau perkebunanan sehingga semakin besar tanaman semakin diperlebar surjannya  (Noor et al., 2006).
          Lahan rawa mempunyai sifat marginal dan rapuh (fragile) yang antara lain mempunyai lapisan gambut dengan berbagai ketebalan.  Budidaya sayuran di lahan gambut ini tergantung pada pengelolaan air, tanah dan tanaman sayuran yang dibudidayakan. Pada lahan gambut budidaya sayuran umumnya pada lahan gambut pasang surut tipe C dan D dengan membuat bedengan dan saluran-saluran kemalir.  Pada lahan gambut tebal atau gambut rawa lebak sayuran dibudidayakan pada musim kemarau dengan membuat bedengan dan saluran-saluran kemalir secara sederhana.   Budidaya sayuran di lahan gambut tebal di Kalimantan Barat (sekitar 2 km dari Kota Pontianak) dan di Kalimantan Tengah (Kelampangan sekitar 7 km dari Kota Palangka Raya) cukup berhasil. Kemampuan dan pengetahuan petani dalam budidaya sayuran di lahan gambut ini cukup baik dan menguntungkan (Lestari et al., 2006; Alwi et al., 2006).  Lahan rawa juga mempunyai lapisan senyawa pirit (FeS2) dengan berbagai kedalaman. Senyawa pirit ini apabila terekspose atau teroksidasi maka akan menghasilkan ion sulfat (SO4-2 dan hidrogen (H+) yang mengakibatkan terjadinya pemasaman tanah dan air (pH 2-3).  Pirit stabil dalam kondisi anaaerob atau tergenang. Pada kondisi masam ini sebagian P dan K terjerap dan tidak tersedia, sebaliknya ion-ion  Al, Fe dan Mn meningkat kelarutannya dalam tanah sehingga meracun tanaman.  Sebaliknya pada kondisi anaerob H2S dan  Fe2+ (besi II) meningkat. Pengelolaan air dan perbaikan tanah dalam pemanfaatan lahan rawa untuk budidaya sayuran merupakan salah satu kunci keberhasilan usaha tani di lahan rawa (Alihamsyah, et al., 2003, Noor et al., 2006). 
Tanaman sayuran menghendaki pH 6-7 dan ketersediaan hara N, P, dan K yang cukup. Oleh karena itu pemanfaatan lahan rawa untuk budidaya tanaman pertanian, termasuk sayuran memerlukan bahan amelioran (seperti kapur atau dolomit,  fosfat alam),  pupuk organik dan anorganik. Selain itu pada musim kamarau diperlukan mulsa penutup muka tanah untuk mempertahankan lengas dan suhu  tanah. 
Lingkungan rawa merupakan lingkungan yang dikenal mempunyai tingkat virulensi tinggi. Hama, serangga, dan penyakit tanaman cukup tinggi sehingga memerlukan pengelolaan hama dan penyakit terpadu apalagi tanaman sayuran sangat rentan diserang oleh organisme pengganggu tanaman.  Pemilihan jenis komoditas dan varietas yang tahan baik terhadap kondisi lahan maupun sebagai siasat menahan serangan hama dan penyakit tanaman diperlukan untuk menghindari kegagalan dalam usaha tani di lahan rawa.

2.  Kajian Aspek Pemintaan
            Permintaan sayuran meningkat seiring dengan kemajuan pengetahuan dan kesadaran, serta perbaikan sosial ekonomi masyarakat.  Menurut Rachman (1997) konsumen dan permintaan produk sayuran di Indonesia mempunyai ciri-ciri antara lain  (1) konsumsi tetap/datar sepanjang tahun, cenderung meningkat singkat pada hari-hari besar keagamaan, (2) tingkat konsumsi sayuran per kapita (BPS, 1993) pada golongan pendapatan rendah masih terbatas yaitu 25,8 kg/kapita/tahun, dan (3) terdapat kecenderungan peningkatan konsumsi dengan meningkatnya pendapatan, (4) pusat yang potensial bagi pengembangan hortikultura adalah pusat-pusat konsumsi yang berada di kota-kota besar, dan (5) komditas sayuran yang dikonsumsi  masyarakat bervariasi tergantung pada harga komoditas, ketersedian dan harga barang lain (sebagai substitusi atau komplementer), tingkat pendapatan, dan preferensi masyarakat. 
            Dari 30 jenis sayuran yang dikonsumsi dari data tahun 1990, 1996 dan 2002 menunjukkan bahwa 50% jenis sayuran mengalami penurunan. Beberapa komoditas dataran tinggi seperti kentang, tomat, dan cabai merah mengalami peningkatan, masing-masing 0,5, 2,9, dan 1,6 % per tahun, sebaliknya komoditas sayuran kubis mengalami penurunan 0,2 % per tahun. Pada kawasan rawa konsumsi sayuran sangat erat hubungannya dengan kebiasaan dan adat masyarakat, seperti pada umumnya masyarakat Kalimantan mempunyai kebiasaan mengkonsumsi cabai dan tomat untuk masakan sehari-hari, khususnya pada hari besar dan acara besar keluarga seperti perkawinan.
Neraca Bahan Makanan tahun 2002 menunjukkan bahwa sayur-sayuran yang berada di Kalimantan Selatan hampir seluruhnya berasal dari produksi sendiri kecuali kentang, kubis, wortel, bawang daun, bawang merah dan bawang putih yang didatangkan (impor) dari propinsi lain. Sayur-sayuran yang produksinya terbesar adalah kacang panjang 3,863 ton, cabe 3,357 ton, dan terong 3,097 ton. Impor sayuran pada tahun 2001 mencapai 6.80 ton, yang terdiri dari bawang merah sebanyak 2.503 ton, bawang putih 1,181 ton, kentang 549 ton, kubis/ kol 1.149 ton, wortel 400 ton, cabe 1.002 ton, dan bawang daun 18 ton. Ketersediaan sayur-sayuran di Kalimantan Selatan  sebanyak 37.043 ton atau 11,65 kg per kapita per tahun. Sedangkan rata-rata ketersediaan per jenis sayuran adalah 0,69 kg. Hanya kacang panjang dan cabe yang lebih dari 1 kg per kapita per tahun, sedang sayuran lainnya masih < 1 kg per kapita per tahun (BPS Kalimantan Selatan, 2003).  Keadaan ini menunjukkan peluang usahatani sayuran masih besar, terutama untuk jenis-jenis sayuran yang masih diimpor tersebut yang sebagian besar dapat diusahakan di lahan rawa. Apalagi dengan meningkatnya jumlah penduduk dan pendapatan masyarakat maka permintaan terhadap sayuran dapat semakin meningkat sehingga diharapkan dengan meningkatkan jumlah konsumen dan pendapatan dapat merangsang pasar sayur dalam negeri (Rachman, 1997). Menurut  FAO selama tiga tahun  (1999-2001) tingkat konsumsi masyarakat terhadap sayur mengalami turun naik misalnya pada tahun 1999 sebesar 31,33 kg/kapita/tahun, pada tahun 2000 menjadi 29,39 kg/kapita/tahun, dan tahun 2001 menjadi 29,70 kg/kapita/tahun.  

3. Kajian Aspek Produksi dan Agribisnis
            Potensi pengembangan sayuran masih terbuka luas dari segi lahan, teknologi budidaya, pasca panen dan pengolahan.  Terkait dengan sifat dan watak lahan rawa maka produksi  sayuran di lahan rawa sangat tergantung pada keberhasilan dalam pengelolaan air, tanah dan tanamannya sebagaimana diuraikan pada bab di atas.
            Luas lahan rawa yang berpotensi untuk pengembangan pertanian diperkirakan antara 9-10 juta hektar, sedangkan yang dibuka baru sekitar 5 juta hektar dan yang dapat dimanfaatkan baru sekitar 2 juta hektar.  Sementara kebanyakan lahan rawa dimanfaatkan untuk budidaya pertanian tanaman pangan (padi), dan secara terbatas untuk tanaman sayuran. Secara keseluruhan tersedia lahan untuk pengembangan hortikultura/sayuran mencakup pekarangan 5,55 juta hektar, tegalan/huma 11,61 juta hektar, lahan tidak diusahakan 7,68 juta hektar, dan lahan untuk kayu-kayuan seluas 9,13 juta hektar (Ditjen Bina Produksi Hortikultura, 2001).  Hasil penelitian di lahan rawa pasang surut dan rawa lebak menunjukkan bahwa lahan rawa dapat menghasilkan  sayuran dengan produktivitas cukup tinggi apabila dikelola dengan baik (Tabel 2).
Pangsa produksi sayuran di Indonesia pada tahun 2000 diperkirakan sekitar 8,2 milyun ton.  Sekitar  56% (4,6 milyun ton) merupakam hasil produksi komersial dan sisanya 44% (3,7 milyun ton) hasil  produksi  rakyat/tidak bersifat komersial. Produksi sayuran komersial bertambah kira-kira 7,0% per tahun dan hasil produksi keseluruhan diperkirakan .mencapai 9,0 milyun ton pada tahun 2005.  Permintaan sayuran tahunan  dari produksi komersial diperkirakan meningkat 7% masing-masing 2% dari akibat pertambahan jumlah penduduk, 3,5% dari akibat peningkatnya pendapatan dan 1,5% dari akibat urbanisasi perkotaan. Permintaan sayuran yang bertambah ini menuntut pentingnya penambahan produksi (Subhan, 2005).








Tabel 2.  Jenis dan varietas tanaman hortikultura yang cocok dibudidayakan di lahan rawa pasang surut dan rawa lebak

Jenis tanaman
Varietas
Hasil (t/ha)
Tomat
Intan, Permata, Berlian, Mirah, AV-22, Ratna
10-16
Cabai
Tanjung-1, Tanjung-2, Hot Chili, Barito, Bengkulu, Tampar, Keriting, Rawit Hijau dan Putih
9-18
Terong
Mustang, Kopek Ungu, Ungu Panjang, No. 4000
17-40
Kubis
KK Cross, KY Cross
20-32
Kacang panjang
Super King, Pontianak, KP-1, KP-2, Lebat
15-28
Buncis
Horti-1, Horti-2, Lebat, Prosessor, Farmer Early, Green Leaf
6-8
Timun
Saturnus, Mars, Pluto, Hercules, Venus
23-40
Sawi
Asveg#1, Sangihe, Talaud, Tosakan, Putih Jabung, Sawi Hijau, Sawi Huma, No. 82-157
10-20
Slada
New Grand Rapids
9-15
Bayam
Maestro, Giti Hijau dan Merah, Cimangkok, Kakap Hijau
10-12
Kangkung
LP-1, LP-2, Sutera
25-30
Lobak
Grand Long
50-85
Pare
Siam, Maya
17-18
Semangka
Agustina, New Dragon, Sugar Baby
10-25
Melon
Monami Red, Sky Rocket
14-18
Sumber : Alihamsyah et al. (2003) dan Hilman et al. (2003).

4. Kajian Aspek Biaya dan Pendapatan
Biaya dan pendapatan petani dalam budidaya  sayuran di lahan rawa sangat beragam, tergantung pada teknologi budidaya dan pengelolaan tanah, air dan tanamannya. Pemilihan komoditas untuk mendapatkan nilai pendapatan yang memadai perlu diarahkan pada multikomoditas atau diversifikasi usaha tani. Komoditas unggulan karena nilai ekonomis yang tinggi merupakan pilihan yang utama.  Pengembangan lahan rawa yang hanya menitik beratkan pada komoditas pangan (misalnya padi saja) tidak akan dapat meningkatkan kesejahteraan petani mengingat nilai tukar padi masih rendah sementara biaya usahatani meningkat terus. Diversifikasi dengan memasukan komoditas sayuran dalam sistem usaha tani terpadu di lahan rawa memberi peluang tambahan pendpatan bagi petani.
Sayuran merupakan komoditas yang dapat diusahakan pada semua jenis tipologi lahan rawa, kecuali pada tipologi lahan rawa lebak dalam. Pola usahatani sayuran di lahan rawa  sangat beragam tergantung  dengan tipologi lahan dan tipe luapan pasang. Pada lahan pasang surut tipe B, tomat dan cabai merupakan tanaman yang paling berpotensial setelah nenas.  Pada lahan rawa lebak dangkal cabai memperlihatkan efisiensi tertinggi (R/C = 3,70) dan lebih kompetitif dibandingkan dengan padi unggul.  Sedangkan pada lebak tengahan labu kuning paling efisien (R/C = 4,40) dan lebih kompetitif dibandingkan dengan sayuran lainnya terhadap padi unggul.  Pada lahan gambut bawang daun lebih efisien dibandingkan dengan sayuran lainnya (R/C = 3,36)  Usahatani sayuran di lahan gambut memberikan kontribusi yang tertinggi (83 %) terhadap total pendapatan petani pertahun dibandingkan dengan usahatani sayuran di lahan sulfat masam (0,34 %) dan lahan lebak dangkal (8,64 %) serta lebak tengahan (32,13 %) (Noorginayuwati dan Rina, 2006). 
Peluang perkembangan usahatani sayuran di lahan rawa ini ke depan perlu mendapat perhatian sebagai  alternatif atau pengganti lahan subur di Jawa yang terus mengalami alih fungsi.

PENUTUP

Peluang pengembangan dan agribisnis sayuran di lahan rawa terbuka luas baik dari segi aspek lahan dan lingkungan serta teknologi produksi.  Permintaan sayuran terus meningkat sehingga peningkatan produksi diperlukan dalam rangka memenuhi kebutuhan dalam negeri dan menekan semakin gencarnya impor.
Peningkatan produksi dan pengembangan agrbisnis sayuran di lahan rawa memerlukan perangkat kelembagaan pemasaran dan keuangan yang sementara ini masih belum tersedia. Penguatan kelembagaan di tingkat petani diperlukan untuk meningkatkan daya tawar dan pembagian keuntungan yang selama ini lebih banyak jatuh ke tangan pedagang.  Struktur agribisnis hortikultura (termasuk sayuran)  perlu dikembagkan ke arah terpadu (integrated) sehingga lebih efisien dan menguntungkan
Peluang perkembangan usaha tani sayuran di lahan rawa ini perlu mendapat perhatian sebagai  alternatif  untuk mengimbangi kemerosotan yang di alami Pulau Jawa yang selama ini sebagai pemasok utama sayuran secara nasional.


DAFTAR PUSTAKA

Alihamsyah, T.  M. Sarwani, A.Jumberi,  I. Ar-Riza, I. Noor, dan H. Sutikno 2003. Lahan Rawa Pasang Surut : Pendukung Ketahanan Pangan dan Sumber Pertumbuhan Agribisnis. Balittra. Banjarbaru. 53 halaman.

Alwi, M, Y. Lestari, dan M. Noor, 2006.  Teknologi budidaya sayuran di lahan gambut. Dalam M. Noor, I. Noor dan  SS. Antarlina (eds). Budidaya  Sayuran  di Lahan Rawa : Teknologi Budidaya dan Peluang Agribisnis.  Monograf Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa. Banjarbaru

Hilman, Y, A. Muharam dan A. Dimyati. 2003.  Teknologi agro-produksi dalam pengelolaan lahan gambut. Makalah disajikan pada Lokakarya Nasional Pertanian Lahan Gambut, Pontianak, 15-16 Desember 2003.
Irawan, B. 2003. Agribisnis hortikultura: peluang dan tantangan dalam era globalisasi. Puslitbang Tanah dan Agroklimat. Badan Litbang Pertanian, Deptan. Bogor.

Lestari, Y., M. Alwi dan M. Noor, Prospek dan kendala budidaya sayuran di lahan gambut: Hasil pengalaman dan penelitian di Kalimantan. Makalah disajikan pada Seminar Nasional Ketahanan Pangan : Membangunan Ketahanan Pangan Berbasis Sumberdaya Lokal, Palangka Raya, 03-04  November 2006.  BPTP Kalimantan Tengah. Palangka Raya 

Noorginayuwati dan Rina. 2006.  Sistem usahatani berbasis sayuran di lahan rawa. Dalam M. Noor, I. Noor dan  SS. Antarlina (eds). Budidaya  Sayuran  di Lahan Rawa : Teknologi Budidaya dan Peluang Agribisnis.  Monograf Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa. Banjarbaru. 

Noor, M. . Achmadi dan K. Anwar  2006.  Peranan lahan rawa pasang surut dalam mendukung ketahanan pangan dan diversifikasi pertanian di Kalimantan Selatan. Pros. Seminar Nasional PERAGI : Peran PERAGI dalam revitalisasi pertanian bidang pangan dan perkebunan. Peragi  Pusat dan Komda DIY dengan Fakultas . Pertanian UGM. Yogyakarta. Hlm 74-83.

Noor, M.,  Mukhlis, dan Achmadi. 2006.  Pengelolaan  sumber daya lahan rawa dalam  perspektif pengembangan inovasi teknologi pertanian.  Makalah disajikan pada Seminar Nasional Sumber Daya Lahan dengan tema :  Staretegi Pemanfaatan dan Pengelolaan Sumberdaya Lahan Pertanian Berbasis Iptek, 14-15 September 2006 di Bogor

Rachman, HPS. 1997. Aspek permintaan, penawaran dan tata niaga hortikultura di Indonesia. Forum Penelitian Agroekonomi Vol 15:1 dan 2. Puslitbang Sosial Ekonomi Pertanian. Badan Litbang pertanian, Deptan. Bogor.

Saptana, M. Siregar, S. Wahyubi, S.K. Dermoredjo, E. Ariningsih, dan V. Darwis. 2005. Pemantapan Model Pengembangan Kawasan Agribisnis Sayuran Sumatera (KASS). Puslitbang Sosial Ekonomi Pertanian. Badan Litbang Pertanian, Deptan. Bogor. 232 hlm.

Simatupang, P. 1995. Industrialisasi pertanian sebagai strategi agribisnis dan pembangaun pertanian dalam era globalisasi. Orasi Pengukuhan Ahli Peneliti Utama. Puslitbang Sosial Ekonomi Pertanian. Badan Litbang Pertanian, Deptan. Bogor.

Subhan. 2005.  Teknologi inovatif tanaman sayuran menunjang keterpaduan usaha pertanian.  Makalah Seminar Nasional Pertanian Lahan Kering.  Banjarbaru, Kalimantan Selatan.  6 Desember 2005.

________________ 

Keterangan: Tulisan ini merupakan bagian dari Buku Monograf : Budidaya Sayuran  di Lahan Rawa - Teknologi Budidaya dan Peluang Agribisnis. 2006. Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa. Banjarbaru

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites